Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BMKG Beberkan Penyebab Cuaca Terasa Gerah di Yogyakarta Beberapa Hari Terakhir, Ternyata Karena Ini!

Iwan Nurwanto • Selasa, 20 Februari 2024 | 01:01 WIB
Seorang siswa sekolah berlindung dari air hujan dengan mantel saat diantar ibunya dengan motor
Seorang siswa sekolah berlindung dari air hujan dengan mantel saat diantar ibunya dengan motor

SLEMAN - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mencatat ada peningkatan suhu udara selama sepekan.

Kondisi itu pula yang membuat cuaca terasa gerah dalam beberapa hari terakhir ini.


Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, ada empat faktor yang menjadi penyebab cuaca terasa gerah.

Pertama, dari hasil streamline angin udara yang bertiup di atas langit Jawa dari arah tenggara, angin cenderung memiliki sifat kering.


Kemudian faktor kedua, beber Reni, cuaca yang cerah dalam beberapa hari ini juga menyebabkan penyinaran matahari tidak terhalang oleh awan. Sehingga pancaran sinar matahari pun terasa begitu panas terik.


Untuk faktor ketiga, dikarenakan posisi matahari pada bulan Februari ini relatif tepat berada tepat di atas Pulau Jawa.

Kondisi itu yang membuat intensitas matahari menjadi relatif tinggi.


Sementara untuk faktor keempat, kondisi berawan pada siang hingga malam hari namun tidak hujan juga membuat cuaca terasa cukup gerah.

Pasalnya, panas yang diterima bumi justru tertahan oleh awan.


Lebih lanjut, Reni mengungkapkan, bahwa dari pantauan BMKG selama sepekan terakhir, suhu udara di Yogyakarta juga tergolong cukup panas.

Suhu maksimalnya rata-rata pada kisaran 32 derajat celsius. Sementara untuk suhu minimalnya pada kisaran 24-25 derajat celsius.


“Ada empat kondisi yang tidak mendukung pembentukan awan hujan dan berdampak pada meningkatnya suhu udara di DIY. Faktor itu juga yang menyebabkan suhu terasa lebih panas sepanjang hari,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (19/2).


Terkait dengan kesiapan Pemkab Sleman menghadapi bencana hidrometeorologi pada saat musim hujan, Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan mengaku, sudah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi dari tanggal 1 Desember 2023 hingga 28 Februari 2024 mendatang.


Selama masa itu pemerintah akan mewaspadai berbagai potensi bencana hidrometeorologi. Baik itu hidrometeorologi basah maupun kering.


Dia pun menyampaikan, kalau seluruh kapanewon di kabupaten Sleman juga memiliki ancaman bencana hidrometeorologi. 

Khususnya, kejadian pohon tumbang dan kerusakan rumah yang diakibatkan oleh angin kencang.


“Sehingga pada musim hujan tahun ini harapannya dapat mengisi kembali air tanah, namun kami berharap tidak disertai dengan angin kencang,” tandas Makwan. (inu)

Editor : Amin Surachmad
#suhu udara #bencana hidrometeorologi #BMKG