RADAR JOGJA – Genap berusia 81 tahun, Universitas Islam Indonesia (UII) terus berkomitmen untuk melahirkan intelektual organik. Bukan hanya sekadar intekektual tradisional, yang mengiyakan apa kata penguasa sekalipun itu salah.
Hal itu disampaikan oleh Sutarman Marzuki selaku Ketua Umum Yayasan Badan Wakaf UII yang dikutip dari pemikiran filosof Italia, Antonio Gramsci. "Bukan intelektual tradisional yang tugasnya membenarkan apa kata penguasa sekalipun perbuatannya mungkaroh. Bukan itu yang akan dilahirkan dari UII," tegas Sutarman dalam acara Milad ke-81 UII di Auditorium Kampus Terpadu UII kemarin (12/2).
Menurutnya, UII melahirkan intelektual organik atau ulul albab. Yang berarti seseorang yang cerdik atau pandai, atau memiliki akal atas pemahaman yang benar. "Orang yang tidak tidur nyenyak dengan kemungkaran yang ada di sisinya. Tapi terus bersuara menyuarakan kebenaran," tegasnya.
Dia pun merasa bersyukur, akan adanya dosen yang dikomandoi rektor dan guru besar UII berupaya meluruskan segala hal yang kurang baik di negeri ini.
"Karena negeri ini harus terus tumbuh berkembang menjadi lebih baik, menjadi lebih unggul," ucapnya.
Sementara itu, Rektor UII Fathul Wahid menyebut, isu sustainability (keberlanjutan) telah menjadi fokus kajian penting di berbagai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). "Maka peluncuran program Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2015 menjadi tonggak penting dalam rangka pengentasan kemiskinan, menyelamatkan planet, dan memastikan kesejahteraan pada 2030," kata Fathul Wahid. (gun/eno)
Editor : Satria Pradika