RADAR JOGJA - Upacara adat Labuhan Merapi kembali dilaksanakan di kapanewon Cangkringan pada Senin (12/2) pagi. Kegiatan tersebut mendapatkan antusias cukup besar dari ratusan masyarakat yang ikut mengantarkan para abdi dalem menuju Petilasan Sri Manganti.
Labuhan Merapi s merupakan tradisi rutin yang digelar untuk memperingati Tingalan Jumenengan Dalem. Yakni ulang tahun kenaikan tahta Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Raja Keraton Jogjakarta.
Juru Kunci Merapi Suraksohargo Asihono mengatakan, pelaksanaan Labuhan Merapi tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahapannya diawali Senin (11/2) dengan upacara serah terima ubarampe labuhan di Pendopo Kantor Kapanewon Cangkringan.
Pada hari itu juga dilakukan arak-arakan menuju petilasan Mbah Maridjan, pentas seni, perebutan gunungan, doa bersama, hingga pagelaran wayang kulit sampai malam suntuk.
Untuk hari kedua kemarin (12/2) kegiatan dilanjutkan dengan membawa ubarampe dari petilasan Mbah Maridjan menuju bangsal Sri Manganti oleh abdi dalem Keraton Jogjakarta. Di lokasi itu juga prosesi Labuhan Merapi dilakukan.“Untuk pelaksanaannya sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada yang berbeda,” ujar Mbah Asih sapaan akrabnya.
Disinggung tentang harapan khusus di tengah tahun tahun politik. Mbah Asih mengaku tidak ada. Karena tahun ini tradisi Labuhan Merapi digelar sesuai esensinya. Yakni berharap perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta berharap tidak ada keburukan.
Labuhan Merapi juga merupakan salah satu upacara adat yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Islam pada abad ke XVII. Upacara ini dimaksudkan agar negara dan rakyatnya senantiasa dalam keadaan selamat, tentram dan sejahtera.“Tidak ada harapan khusus di tahun politik, karena memang tidak ada kaitannya,” tegas Mbah Asih.
Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo telah menerima ubarampe dari utusan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang kemudian diserahkan kepada juru kunci Gunung Merapi. Serah terima ubarampe Labuhan Merapi dilaksanakan pada Minggu, (11/2) di kantor Kapanewon Cangkringan.
Ubarampe yang diserahterimakan terdiri dari Sinjang Kawung Kemplang, Semekan Gadung, Semekan Gadung Mlati, Kampuh Paleng, Desthar Daramuluk, Desthar Udaraga serta Arta Tindih dan lainnya.
Kustini menyambut baik pelaksanaan tradisi labuhan merapi ini. Karena ini tidak hanya tradisi. Namun bentuk syukur manusia kepada Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan karunia yang telah diberikan."Melalui tradisi labuhan merapi ini menunjukkan sikap gotong royong, guyub rukun, golong gilig dan wujud syukur," katanya. (inu/din)
Editor : Satria Pradika