PINTU rezeki bisa datang dari mana saja. Mungkin itu kata yang tepat bagi sosok Sugeng.
Pria yang tinggal di Pundong, Tirtoadi, Mlati, Sleman ini berhasil mengembangkan usaha pembibitan tanaman buah dan sayuran. Modal awalnya tidak seberapa, omzetnya bisa mencapai puluhan juta.
IWAN NURWANTO, Radar Jogja, Sleman
Saat ditemui Radar Jogja Selasa (6/2), Sugeng tampak sibuk melayani pembeli. Entah itu yang menghubungi lewat telepon genggamnya maupun yang datang ke kebunnya secara langsung.
Kebun miliknya bernama Trubus dan beralamat di Jalan Kebonagung, Mriyan, Margomulyo, Seyegan, Sleman.
Di kebun itu tampak pula beberapa petani yang sibuk memilih bibit agar bisa ditanam..
Selain itu, juga terlihat beberapa pekerja yang tengah memasukkan benih-benih tanaman ke dalam polibag.
Agrobisnis memang sudah mengalir dalam darah Sugeng. Hal itu tidak terlepas dari profesi kedua orang tuanya sebagai petani.
Sehingga usai lulus dari sekolah menengah atas, pria 58 tahun itu pun memilih fokus menekuni usaha berkebun.
Modal awal Sugeng memulai usaha pembibitan tanaman buah dan sayuran itu hanya niat dan uang yang tidak seberapa.
Menggunakan lahan sepetak, dia menanam sekitar 21 ribu bibit cabai seharga Rp 2 juta.
Dari bibit tersebut kemudian dia kembangkan, hingga akhirnya cocok bagi kalangan petani.
Berawal dari cabai, kini dia juga mengembangkan usaha pembibitan tanaman lain.
Di antaranya, cabai rawit, cabai keriting, tomat, terong hibrida, pepaya california, hingga sayuran seperti sawi.
“Kalau modal mungkin sekitar Rp 2 jutaan untuk buat gubukan (bangunan sederhana). Kalau bibit berawal dari model titip jual. Namun, karena bibitnya tidak cocok bagi petani, akhirnya saya melakukan pembibitan sendiri,” ujar Sugeng saat ditemui.
Menjalani usaha pembibitan tanaman buah dan sayur bukan tanpa halangan. Sugeng sempat terpuruk selama kurang lebih selama dua tahun karena bibitnya rusak.
Namun, berkat kerja kerasnya kini pun usahanya dapat bangkit kembali.
Kendala lain, menurut dia, pada situasi sekarang sektor usaha agribisnis juga memiliki persaingan makin sengit.
Sehingga agar dapat terus bertahan, tentu kualitas bibit tanaman yang bagus harus terus dijaga. Agar petani tetap berminat untuk membeli.
Sugeng mengaku, berawal dari modal sekitar Rp 2 juta itu sekarang mampu meraup omzet dari Rp 20 juta sampai 80 jutaan per bulan.
Di samping itu, melalui usaha pembibitan itu setidaknya ada sepuluh orang yang dapat diberdayakan sebagai pekerja untuk merawat tanaman-tanamannya.
Berkat berjalannya usaha pembibitan miliknya itu pula, diakui Sugeng, memang dapat meningkatkan taraf hidupnya.
Mulanya hidup sederhana. Kini dia mampu menyekolahkan anak-anaknya, membeli tanah, hingga memiliki kendaraan berupa mobil pribadi.
“Alhamdulillah dari usaha ini dulu hidup serba sederhana untuk sekarang sudah lumayan berkecukupan,” ujar Sugeng.