Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Angin Baratan Dominasi Wilayah DIJ

Iwan Nurwanto • Senin, 5 Februari 2024 | 11:40 WIB
BASAH: Pengendara sepeda motor mengenakan mantol saat turun hujan di Yogyakarta.
BASAH: Pengendara sepeda motor mengenakan mantol saat turun hujan di Yogyakarta.

RADAR JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta memprediksi bakal ada potensi hujan sedang hingga lebat dalam beberapa hari ke depan. Hal ini pun karena adanya pola angin baratan yang mendominasi wilayah DIJ.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Warjono mengatakan, pola tersebut disebabkan adanya tekanan rendah di sisi utara Australia. Kondisi itu dapat membuat angin yang bertiup dari arah barat daya dan barat laut memiliki kecepatan hingga 20-30 km/jam. Adanya pertemuan arus angin itu membuat kelembaban udara di DIJ berada pada ketinggian 1,5-5,5 kilometer atau masuk kategori cukup basah.

“Kondisi ini menyebabkan potensi pertumbuhan awan hujan dapat terjadi di wilayah DIJ bagian selatan pada pagi dan dini hari, dan utara pada siang hingga sore menjelang malam hari,” beber Jojo dalam keterangannya kemarin (4/2).

Dia pun mengimbau, agar masyarakat waspada terhadap berbagai potensi bencana untuk beberapa hari ke depan. Apabila kondisi hujan sedang sedang-lebat disertai petir dan angin kencang, maka kemungkinan dapat memicu pohon tumbang.

Baca Juga: BMKG Prediksi Ada Hujan Sedang Hingga Lebat Beberapa Hari Kedepan, Ini Imbauannya

Sementara jika hujan turun dengan intensitas ringan hingga sedang namun durasinya panjang, hal tersebut dapat memicu bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor. “Kami minta untuk meng-update informasi dan selalu berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait kebencanaan seperti BPBD,” ungkap Jojo.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan menyampaikan, status siaga darurat bencana hidrometeorologi di Sleman ditetapkan dari 1 Desember 2023 hingga 28 Februari mendatang. Selama masa itu, pemerintah akan mewaspadai berbagai potensi bencana hidrometeorologi. Baik itu hidrometeorologi basah maupun kering.

Menurut Makwan, seluruh kapanewon di kabupaten Sleman juga memiliki ancaman bencana hidrometeorologi. Khususnya kejadian pohon tumbang dan kerusakan rumah yang diakibatkan oleh angin kencang.

Guna mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi lebih parah, Makwan meminta, agar masyarakat mulai melakukan upaya pencegahan. Di antaranya dengan memangkas tajuk-tajuk pohon yang berpotensi rawan tumbang.

Di samping itu, bagi masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Merapi pun diminta untuk selalu waspada. Sebab, seiring datangnya musim hujan potensi banjir lahan dingin juga meningkat. “Bencana hidrometeorologi menjadi ancaman di semua kapanewon,” kata Makwan. (inu/eno)

Editor : Satria Pradika
#Hujan #pola angin baratan #BMKG