JOGJA - Penuntasan masalah gizi jadi salah satu aspek penting yang isunya turut dibawakan oleh para calon presiden (capres) di momentum Pemilu 2024.
Menyoroti fenomena tersebut, Dosen Program Studi Gizi Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta Nor Eka Noviani turut mengapresiasi.
Disebutnya, penuntasan masalah gizi menjadi isu penting. Khususnya, di masa kampanye capres dan cawapres 2024 ini.
Tentunya, banyak program yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan yang turut dikampanyekan untuk memperoleh simpatisan, masa, serta memilih pasangan capres dan cawapres pada 14 Februari 2024 mendatang.
"Seperti stunting yang masih menjadi isu penting dan diangkat oleh ketiga pasangan capres dalam pemilu 2024 ini," katanya Kamis (25/1).
Nor Eka merinci, seperti capres nomor 1 Anis Baswedan menargetkan tidak ada lagi masalah gizi buruk di Indonesia.
Sebab, baik kesehatan dan pendidikan merupakan investasi masa depan suatu bangsa.
Selanjutnya, capres nomor 2 Prabowo Subianto memberikan perhatian dan dukungan gizi pada ibu hamil. Di mana, ibu hamil yang sehat menurunkan generasi yang sehat, memiliki tumbuh kembang, serta daya fungsi otak yang maksimal.
Lalu, capres nomor 3 Ganjar Pranowo memiliki program untuk meningkatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) bagi anak dan lanjut usia (lansia). Di mana, program ini seakan lanjutan dari program pemerintah sebelumnya.
"Ketiga capres mempunyai program untuk menuntaskan masalah gizi, dan itu hal yang memang harus dilakukan," sambungnya.
Ia memaparkan, gizi memang isu yang sangat krusial untuk diusung. Sebab, gizi berhubungan dengan hak untuk makan serta hidup sehat bagi semua orang.
Dikatakannya, semua orang harusnya memiliki akses yang sama dan setara terhadap makanan sehat serta bergizi untuk menghasilkan perkembangan, pertumbuhan, serta produktivitas kerja yang optimal.
"Sebagai kebutuhan dasar, pemenuhan gizi itu jadi tabungan yang memberi keuntungan saat ini dan masa depan," lontarnya.
Nor juga memaparkan, secara umum banyak bukti penelitian yang menunjukkan bahwa peningkatan gizi juga akan berdampak terhadap kesejahteraan serta ekonomi suatu bangsa.
"World Bank menjelaskan bahwa intervensi gizi dapat meningkatkan ekonomi suatu bangsa," paparnya.
Ke depan, Nor Eka berharap pemimpin yang terpilih nantinya memiliki komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas kesehatan rakyat Indonesia.
Dengan demikian, tidak ada lagi kasus gizi buruk serta tidak ada ibu hamil mengalami gizi kurang.
"Harapannya adalah semua warga negara ter-cover pembiayaan kesehatannya," tandasnya. (iza)
Editor : Amin Surachmad