SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mengklaim banjir lahar dingin belum terlalu menjadi ancaman bencana bagi wilayah Kabupaten Sleman.
Sebab, bencana yang membawa material Gunung Merapi itu dipengaruhi berbagai faktor.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan mengatakan, banjir lahar dingin sangat dipengaruhi oleh guguran material dan abu vulkanis.
Sebab, menurut dia, abu vulkanis memiliki peran seperti pelumas bagi aliran material yang dimuntahkan oleh Gunung Merapi.
Makwan menyebut, ancaman banjir lahar dingin yang membawa material berupa pasir dan batuan belum terlalu dikhawatirkan.
Karena, meski aktivitas Gunung Merapi cukup masif beberapa waktu terakhir, hujan abu vulkanik tidak mengarah ke Kabupaten Sleman.
Bahka, meski terjadi lahar dingin pun, menurutnya, material dari Gunung Merapi berpotensi tidak berdampak pada wilayah permukiman.
Sebab, kondisi sungai-sungai di sepanjang aliran banjir lahar masih cukup dalam dan mampu menampung banyak material.
“Selain itu, dari pantauan kami sabo-sabo dam juga masih kosong. Sehingga ketika sungai tidak dapat menampung material nanti akan ditahan di dam, lalu yang turun hanya airnya saja,” ujar Makwan, Selasa (23/1).
Walupun begitu, Makwan tetap menghimbau kepada masyarakat yang beraktivitas di aliran lahar dingin untuk selalu waspada.
Terlebih lagi, bagi mereka yang melakukan aktivitasnya sebelum sabo dam.
Seperti penambang pasir atau masyarakat pencari rumput. Lantaran material yang turun sebelum sabo dam kemungkinan jumlahnya masih cukup banyak.
“Potensi lahar dingin biasanya meningkat ketika terjadi hujan deras di puncak Gunung Merapi,” terang Makwan.
Terkait kondisi Gunung Merapi, Kepala BPPTKG DIY Agus Budi Santoso sebelumnya menyampaikan, status Gunung Merapi saat ini masih Level III atau Siaga.
Penetapan status tersebut telah berlangsung selama lebih dari 4 tahun sejak November 2020.
Erupsi Gunung Merapi disebutnya masih tergolong dalam siklus wajar. Terlebih erupsi dan luncuran awan panas guguran selama ini masih dalam radius potensi bahaya.
Evaluasi akan dilakukan apabila luncuran melebihi potensi bahaya dan akan berdampak ke pemukiman.
“Ancaman kedepan masih yang jelas ini erupsi seperti ini belum akan berakhir dalam waktu dekat karena suplai magma masih berlangsung ditandai dengan masih signifikannya data seismik maupun deformasi sehingga itu yang kita antisipasi. Jadi erupsi yang panjang seperti ini,” katanya. (inu)