SLEMAN - Hujan deras yang terjadi selama beberapa hari terakhir berdampak pada kejadian bencana alam di kabupaten Sleman.
Salah satunya di Padukuhan Gondong, Sendangadi, Mlati. Di wilayah tersebut, sebuah talud longsor dan mengakibatkan sejumlah bangunan rusak.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan mengatakan, talud yang ambrol memiliki panjang 15 meter dengan tinggi 3 meter.
Kerusakan talud tersebut diakibatkan lemahnya kekuatan tanah akibat hujan deras yang terjadi pada Minggu (21/1) dini hari.
Baca Juga: Jalani Uji Coba Kontra Tim Liga 3, Persija Pesta Gol Dan Gustavo Almeida Cetak Hattrick
Makwan menyebut, akibat kejadian itu ada tiga rumah milik warga dan sebuah bangunan milik Universitas Mahakarya Asia yang rusak akibat ditimpa material talud.
Adapun hingga Senin (22/1) petugas BPBD Sleman bersama relawan masih melakukan penanganan. Agar material talud dan rumah tidak membahayakan.
“Kejadiannya dipicu oleh air hujan yang tinggi selama tiga hari terakhir, kemudian drainasenya tidak berfungsi dengan baik. Sehingga air masuk ke dalam bangunan dan merobohkan kamar tidur serta dapur,” ujar Makwan saat ditemui.
Dia mengungkapkan, bahwa upaya evakuasi talud longsor di padukuhan Gondong dilakukan dengan cara merobohkan sejumlah bangunan yang dinilai rawan ambrol.
Di lokasi bencana, BPBD Sleman juga mendirikan dapur umum untuk mencukupi logistik warga maupun relawan.
Menurut dia, bencana hujan deras disertai angin kencang juga mengakibatkan sejumlah bencana di beberapa kapanewon.
Di antaranya kapanewon Cangkringan sebanyak 8 titik pohon tumbang, serta Tirtomartani dan Berbah masing-masing satu titik.
“Untuk longsor selain di Mlati, juga di padukuhan Ngumbul, Bangunkerto, Turi yang mengakibatkan sebuah rumah roboh akibat pondasi rapuh,” terang Makwan.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Warjono menyampaikan, ada beberapa kondisi yang membuat intensitas hujan meningkat.
Di antaranya karena pola angin baratan (Monsoon Asia) mendominasi wilayah DIJ. Kemudian juga tekanan rendah di Samudera Hindia Barat Daya Bengkulu dan di Australia.
Lalu, kondisi MJO saat ini berada di kuadran empat yang cukup berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di Indonesia bagian barat.
Baca Juga: Layaknya Negeri Dongeng, Kemegahan Mont Saint Michel Ternyata Pernah Menjadi Penjara
Kondisi pola pergerakan angin juga mengarah dari selatan hingga barat daya pun bergerak kearah utara – barat laut.
Sehingga membawa pasokan uap air cukup maksimal dari Samudera Hindia. Selain itu juga karena kelembaban udara untuk kondisi saat ini bersifat basah.
“Kami himbau masyarakat waspada potensi hujan sedang-lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang,” terang Warjono.
Editor : Bahana.