Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ridduan Bukan Kali Pertama BDSM dengan Korban, Waliyin Akui Ide Mutilasi Darinya, Begini Pengakuannya

Khairul Ma'arif • Jumat, 19 Januari 2024 | 02:06 WIB
Sidang kasus mutilasi Ridduan dan Waliyin di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Kamis (18/1/2024).
Sidang kasus mutilasi Ridduan dan Waliyin di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Kamis (18/1/2024).

SLEMAN - Sidang perkara pembunuhan disertai mutilasi terhadap korban Redho Tri Agustian kembali berlanjut di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Kamis (18/1/2024).

Agendanya merupakan pemeriksaan kedua terdakwa, yakni Waliyin dan Ridduan yang hadir langsung dalam ruang sidang.

Jaksa penuntut umum (JPU) dalam kesempatan tersebut juga menghadirkan sejumlah barang bukti.

Di antaranya seperti meja, gas, pisau, ember, dan masih banyak lainnya.

Barang bukti yang mayoritas alat dapur tersebut berkaitan dengan mutilasi yang dilakukan oleh kedua tersangka.

Berbeda dengan sidang-sidang sebelumnya, kali ini Waliyin juga mengenakan peci seperti Ridduan.

Namun, peci Waliyin berwarna putih sedangkan Ridduan konsisten dengan peci hitamnya yang sejak sidang perdana dipakainya.

Dalam persidangan, Ridduan pertama kali yang memberikan kesaksian dilanjutkan oleh Waliyin.

Ridduan menceritakan, memang sudah mengenal Waliyin tiga atau empat bulan sebelum kasus ini mencuat.

Perkenalannya dengan Waliyin terjadi karena tergabung dalam satu komunitas Bondage Dominance, Sadism, dan Masochism (BDSM) di grup Facebook.

Dalam BDSM ada yang berperan sebagai master yang melakukan dan slave sebagai penerima.

Menurutnya, sebelum bertemu Redho, Ridduan mengunggah status di grup Facebook BDSM itu dengan pesan mencari slave yang sesuai fetish-nya.

Baca Juga: Bawaslu Bantul Lakukan Evaluasi Pengawasan Kampanye Pemilu 2024

Setelah unggahan tersebut, korban Redho mengirimi Ridduan pesan pribadi melalui Facebook Messenger.

Selanjutnya, terjadi interaksi antar-keduanya. "Terus saya deal saya kenal Waliyin dan meminjam tempatnya," bebernya, Kamis (18/1/2024).

Akhirnya, Ridduan berangkat dari rumahnya di Jakarta Selatan ke Jogja menggunakan kereta yang setibanya langsung dijemput Waliyin.

Ridduan sebagai master masochism yang berperan sebagai memukul tanpa menggunakan alat.

Sedangkan korban Redho sebagai slave atau yang menerima pukulan.

Dalam persidangan, Ridduan mengungkapkan, menjadi master dan Redho menjadi slave sudah berdasarkan kesepakatan.

Oleh karena itu, dia menegaskan, tidak ada paksaan dan korban bersedia karena memang kemauannya Redho.

Pada awalnya, Ridduan tidak mengetahui apabila Redho merupakan mahasiswa UMY.

Awalnya ada perbincangan untuk main BDSM di kos korban bukan di kosnya Waliyin.

Namun, rencana itu diurungkan karena memang kos Redho ada yang nungguin dan ada teman-teman kosnya yang tidak mengetahui korban tergabung dalam komunitas BDSM.

Redho yang menjadi slave mendapat pukulan di sekitaran bagian perut dan dada.

Pemukulan dilakukan Ridduan dengan tangan kosong berawal dari soft hingga meningkat ke hard.

Baca Juga: Bawaslu DIY Ajak Masyarakat Berkampanye Santun Selama Masa Kampanye Terbuka, Minimalisasi Potensi Gesekan Antarpendukung

"Hasratnya memang di situ, ya itu memang berdasarkan permintaannya korban saya datang dari Jakarta sebagai master memang mukul-mukul," ujar Ridduan.

Dalam fase pertama pukulannya soft lantas Redho mengaku tidak ada rasa.

Oleh karena itu, korban meminta lebih keras lagi pukulannya malah membuatnya collapse.

Ketika pukulan Ridduan mulai lebih keras korban terjatuh.

Kondisi itu membuat Ridduan panik yang hanya sendirian di kos Waliyin.

Selain itu, berdasarkan permintaan korban, saat melakukan BDSM dalam keadaan terikat dan dilakban mulutnya.

Tali itu milik Waliyin karena fetish-nya bondage yang berkaitan dengan tali-temali.

Saat memainkan BDSM dengan kondisi korban telanjang dada.

Kondisi korban yang terjatuh membuat Ridduan panik.

Menurutnya, itu karena pertama kalinya mendapati hal tersebut.

Ridduan mengaku, sebelumnya sudah sekitar sepuluh kali bermain BDSM.

Dari jumlah tersebut dirinya tidak selalu berperan sebagai master, tetapi pernah juga menjadi slave.

Baca Juga: Dosen UTY Sebut AI Tak Bisa Dibendung, Batasannya Adalah Moral dan Etika

"Saya kan selama di Jakarta sudah satu tahun lebih, dapat master atau slave selalu kuat," ungkapnya.

Saat kondisi terjatuh, dia memanggil Waliyin untuk kembali ke kosnya.

Setibanya Waliyin lantas mengajak atau memutuskan untuk melakukan mutilasi.

Baca Juga: Eksekusi Pidana Mati Ditunda, Mary Jane Bakal Jadi Saksi Kasus Perdagangan Orang, Ini Kisah Perjalananya

Ridduan sempat terhenyak dan mikir sebentar atas ajakan Waliyin.

Selang beberapa saat kemudian memutuskan untuk mengiyakan ajakan Waliyin memutilasi korban.

"Saya motong pergelangan tangan, lainnya Waliyin yang melakukan," imbuhnya.

Ada lima kantong plastik potongan tubuh korban yang dibuang secara disebar oleh kedua terdakwa.

Sementara itu, Waliyin yang juga bersaksi tidak menampik bahwa keputusan mutilasi inisiasi darinya.

Keputusan itu hadir untuk menghilangkan jejak sehingga dipotong-potong.

Sama seperti Ridduan, Waliyin juga sudah beberapa kali bermain BDSM.

Setidaknya, sebelum kejadian ini sudah melakukan BDSM kurang lebih tiga kali.

Dikatakannya, kepala Redho menjadi bagian tubuh pertama yang dimutilasinya.

Setelah itu, dijeda beberapa jam untuk memutilasi bagian tubuh korban lainnya.

Ketika momen itu, Waliyin survei lokasi untuk titik pembuangan tubuh Redho.

Sedangkan, Ridduan di kosnya tidur dengan keadaan jasad Redho terpotong kepalanya di dapur kos Waliyin.

Baca Juga: Simak..!!! Begini Penjelasan Para Ahli, Mengapa Kebiasaan Menggosok Mata Sangat Berbahaya

"Untuk yang mutilasi memang ide dari saya karena panik terus timbul pikiran seperti itu karena saya punya kegelisahan yang biasa," tuturnya.

Waliyin mengungkapkan, sempat panik saat ada temuan potongan tubuh Redho pertama kali.

Itu diketahuinya melalui berita-berita yang ada di Medsos yang menginformasikan ditemukan potongan tubub perempuan.

Saat momen menjelang ditangkapnya itu, Waliyin masih berada di Jogja.

Ada seorang temannya Redho menanyakan keberadaannya kepada Waliyin.

"Saya bilang tidak tau, ke Bogor rumahnya Ridduan untuk menenangkan diri dan melihat perkembangan berita," katanya.

Hanya semalam saja menginap di sana akhirnya sudah diciduk oleh polisi. (rul)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#mutilasi #mahasiswa UMY #waliyin #bdsm