SLEMAN - Datangnya musim penghujan disebut dapat meningkatkan risiko bencana tanah longsor di Kabupaten Sleman.
Bahkan, dari catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman sudah ada lima kejadian bencana longsor pada Januari ini.
Dari data Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BPBD Sleman menyebutkan, lima titik bencana tanah longsor itu mayoritas terjadi di awal bulan.
Yakni, pada 4 Januari terjadi di dua titik. Yakni, Padukuhan Sawahan, Nogotirto, Gamping, dan Padukuhan Gondangan, Margodadi, Seyegan.
Tiga hari berselang yakni 7 Januari, bencana tanah longsor kembali terjadi di dua titik. Yaitu, Padukuhan Salakan, Trihanggo, Gamping dan, Padukuhan Dero, Condongcatur, Depok.
Sementara yang terbaru pada 10 Januaro di Padukuhan Tebonan, Hargobinangun, Pakem.
Kejadian di lima titik tersebut menimbulkan total kerugian mencapai Rp 7 juta.
Itu dikarenakan dampak bencana tanah longsor terbesar hanya mengenai tebing setinggi 79 meter, 1 fasilitas umum, dan 1 meter saluran irigasi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengatakan, bencana tanah longsor memang perlu diwaspadai saat musim penghujan seperti sekarang.
Terlebih, jika hujan yang turun intensitasnya cukup deras.
Menurut dia, selama ini Kapanewon Prambanan merupakan salah satu wilayah yang cukup sering terjadi bencana tanah longsor.
Namun, tidak menutup kemungkinan kapanewon lain juga memiliki potensi bencana tanah bergerak tersebut.
“Potensi bencana tanah longsor juga bisa terjadi di puncak gunung Merapi, berupa longsoran kubah lava yang mengarah ke selatan (arah kabupaten Sleman). Kemudian juga di tebing kanan-kiri sungai yang berhulu di lereng Gunung Merapi,” ujar Bambang, Kamis (18/1).
Terpisah, Kepala Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Warjono menyampaikan, potensi hujan sedang hingga lebat bisa terjadi di beberapa wilayah di Yogyakarta.
Hal itu disebabkan adanya kondisi dinamika atmosfer yang berpengaruh terhadap curah hujan.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang membuat hujan turun deras. Di antaranya, karena pola angin baratan (Monsoon Asia) mendominasi wilayah DIY.
Selain itu, tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah barat daya Bengkulu dan di Australia.
Lalu, kondisi MJO saat ini berada di kuadran empat yang cukup berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di Indonesia bagian barat.
Kondisi pola pergerakan angin dari arah selatan hingga barat daya pun bergerak kearah utara-barat laut.
Baca Juga: Esensi Pengembangan Layanan Prakonsepsi oleh Tenaga Kesehatan di Layanan Primer
Ini membawa pasokan uap air cukup maksimal dari Samudera Hindia. Selain itu, juga karena kelembaban udara untuk kondisi saat ini bersifat basah.
“Dengan tingginya intensitas hujan, bagi daerah dengan topografi tidak rata waspada terhadap potensi bencana tanah longsor,” pesan Warjono. (inu)