Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bukan Karena Erupsi Merapi, BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Beberapa Hari Ini

Iwan Nurwanto • Selasa, 16 Januari 2024 | 22:36 WIB
Dari CCTV Tunggularum terlihat Gunung Merapi mengeluarkan awan panas guguran (APG) pada Jumat 5 Januari 2024 pukul 05.34 WIB.  (Foto: BPPTKG)
Dari CCTV Tunggularum terlihat Gunung Merapi mengeluarkan awan panas guguran (APG) pada Jumat 5 Januari 2024 pukul 05.34 WIB. (Foto: BPPTKG)

SLEMAN - Cuaca panas terus terjadi di wilayah Jogjakarta dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, hujan yang sebelumnya sering turun pun tiba-tiba menghilang.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta membeberkan penyebab fenomena tersebut.


Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, kondisi wilayah di DIY untuk saat ini memang lebih cenderung berawan.

Kalaupun ada hujan, biasanya hanya skala lokal karena diakibatkan adanya aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) yang saat ini ada di fase empat.


“Kondisi tersebut membuat potensi hujan meningkat di wilayah Indonesia bagian timur,” ujar Jojo, sapaan akrab Warjono, Selasa (16/1).


Selain itu, lanjut Jojo, menurunnya curah hujan di DIY juga disebabkan karena pusaran siklonik di wilayah Kalimantan serta wilayah konversi (pertemuan massa udara) di utara Jawa bagian timur.

Kemudian, juga didukung rendahnya kelembaban udara di lapisan menengah yang berkisar antara 40-60 persen.


Adanya kondisi tersebut, menurutnya, cukup berkontribusi membuat potensi awan hujan di wilayah DIYberkurang.

Sehingga dampaknya membuat beberapa wilayah di Jogjakarta sama sekali tidak diguyur hujan.

Namun, dia memastikan bahwa dalam waktu dekat ini kembali berpotensi hujan.


“Jadi, cuaca panas di DIY tidak ada kaitannya dengan erupsi Gunung Merapi,” terang Jojo.

Baca Juga: Kampung Tematik Anggur di Kota Jogja, Mampu Produksi Puluhan Jenis Olahan Makanan Berbahan Dasar Buah, Apa Saja?


Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan membeberkan, potensi bencana hidrometeorologi kerap muncul ketika musim pancaroba seperti sekarang.

Hal tersebut akan ditandai cuaca ekstrem berupa angin kencang disertai hujan deras.


Selain itu, peralihan musim kemarau ke penghujan juga akan membuat pembentukan awan cumulonimbus. Sehingga dapat memicu bencana angin puting beliung sampai hujan es.

Kondisi itu juga dapat mengakibatkan bencana tanah longsor dan banjir lahar hujan.


Karena itu, dia pun meminta, agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta mengurangi resiko. Yakni, dengan memastikan kondisi atap rumah benar-benar aman lalu diperkuat.

Selain itu, pohon yang kering juga dipotong dan dikurangi rantingnya agar tidak menimpa kawasan permukiman.


Sementara untuk mengurangi banjir atau genangan, Makwan meminta, agar masyarakat mulai membersihkan saluran air. Serta tidak membuang sampah pada saluran drainase.


"Untuk di jalan raya baliho-baliho juga diperiksa, apakah tiang sudah kuat dan lubang angin berfungsi dengan baik," katanya. (inu)

Editor : Amin Surachmad
#cuaca panas #Gunung Merapi #BMKG