RADAR JOGJA - Proyek pembangunan Tol Jogja-Solo Paket 2.2 berlanjut dengan penimbunan. Ini dilakukan agar proyek yang melintasi Kalurahan Tlogoadi dan Tirtoadi dapat tersambung.
Humas PT Adhi Karya Pembangunan Tol Jogja-Solo Seksi 2 Paket 2.2 Agung Murhandjanto mengatakan, pihaknya sampai saat ini masih melakukan pemadatan dan penimbunan material. Pengerjaan itu ditarget bisa selesai Maret mendatang. “Setelah pemadatan dan penimbunan selesai, nantinya kalurahan Tirtoadi dan Tlogoadi bisa tersambung tol,” ujar Agung, kemarin (15/1).
Selain melakukan pemadatan dan penimbunan, pelaksana proyek kini juga tengah memasang box culvert dan box jalan yang totalnya berjumlah 20 titik. Hingga awal tahun ini, pelaksana proyek sudah memasang 13 titik.
Dia menyebut, secara garis proyek pembangunan Tol Jogja-Solo persentasenya sudah mencapai 21 persen. Serta ditarget dapat selesai dan beroperasinya pada akhir tahun mendatang.
Pihaknya juga akan bertemu dengan pemerintah kalurahan untuk membahas terkait pemindahan Makam Kyai Kromo Ijoyo atau akrab disebut sebagai situs Mbah Celeng. Dalam rapat itu nantinya akan diputuskan yang melakukan pemindahan apakah desa, pihak toal, atau pemerintah kalurahan.“Nanti baru mau dirembug (dibahas),” ungkap Agung.
Lurah Tirtoadi Mardiharto menyampaikan, lahan relokasi makam Kyai Kromo Ijoyo disiapkan tidak jauh dari lokasi makam saat ini. Jaraknya sekitar 150 meter dari lokasi lama dan memiliki luas sekitar 200 meter. Serta menggunakan tanah milik Kasultanan Ngayogyakarta.
Menurut Mardiharto, rencana terkait pemindahan makam Kyai Kromo Ijoyo sampai saat ini masih terus berproses. Kalurahan masih menunggu perizinan penggunaan lahan dari dari Kraton Jogja yang sebelumnya telah diajukan.
Pihaknya juga masih belum tahu siapa yang akan melakukan relokasi terhadap makam yang kerap disebut Situs Mbah Celeng tersebut. Apakah nantinya dilakukan pemerintah kalurahan, kontraktor, atau dari pihak tol.“Apabila UGR diserahkan kepada warga atau ahli waris, maka nantinya pemerintah kalurahan yang melakukan pemindahan,” terang Mardiharto. (inu/din)
Editor : Satria Pradika