SLEMAN - Secara umum dalam beberapa tahun ke belakang, aktivitas gempa bumi di Indonesia terus mengalami peningkatan.
Data BMKG mencatat adanya pola peningkatan aktivitas gempa bumi sejak tahun 2013 dengan rata-rata 10.000 kali dalam setahun di seluruh Indonesia.
Guru Besar Geologi UGM Jogjakarta Prof Dr Eng Ir Wahyu Wilopo mengatakan, kondisi tersebut ditengarai beberapa faktor krusial.
Baca Juga: Kabar Gembira! Seekor Bayi Harimau Sumatra Menjadi Sorotan Setelah Lahir di Kebun Binatang Roma, S
Salah satunya dikarenakan posisi Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik dan pertemuan tiga lempeng tektonik dunia.
“Bisa dibilang, sebagian besar wilayah Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi,” katanya, Sabtu (13/1).
Dikarenakan besarnya potensi bencana gempa bumi di Indonesia, Wahyu mengungkapkan, perihal pentingnya penguatan mitigasi guna meminimalisasi dampak bencana.
Disebutnya, salah satu mitigasi awal yang harus dilakukan dengan penyusunan tata ruang berbasis informasi multi bahaya. Khususnya, gempa bumi.
Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan, setidaknya ada empat prinsip pendekatan perencanaan di daerah rawan gempa bumi yang mesti dilakukan.
Pertama, mengumpulkan informasi bahaya patahan aktif yang akurat.
Baca Juga: Ketika PSIM Jogja Menang Besaaar Atas Klub VBDO Belanda di Stadion Kridosono 89 Tahun Silam
Kedua, merencanakan untuk menghindari bahaya zona patahan sebelum pengembangan dan pembagian ruang.
Ketiga, mengambil pendekatan berbasis risiko di wilayah yang sudah dikembangkan atau ditempati.
Keempat, komunikasikan risiko di kawasan terbangun pada zona patahan.
“Lalu, untuk daerah yang sudah dihuni itu perlu ada penguatan gedung, peningkatan ketangguhan, dan juga kesiapsiagaan masyarakat,” paparnya.
Dalam menjalankan upaya mitigasi bencana, Wahyu menyebutkan, perlu adanya kerja sama erat antara para stakeholder.
Itu meliputi pemerintah, swasta, masyarakat, akademisi, hingga media masa.
Hal tersebut diakuinya perlu dilakukan dengan tujuan untuk mewujudkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana secara kolektif.
"Semua harus dilibatkan dan punya keterlibatan untuk mitigasi bersama," pesannya. (iza)