Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Waspada! Pasca Kemarau Panjang Pohon Cenderung Mudah Tumbang, BPBD Sleman Ungkap Penyebabnya

Iwan Nurwanto • Minggu, 7 Januari 2024 | 19:18 WIB
SIAGA: Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan. (IWAN NURWANTO/Radar Jogja)
SIAGA: Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan. (IWAN NURWANTO/Radar Jogja)

 

SLEMAN - Bencana hidrometeorologi berupa angin kencang mengancam hampir seluruh kapanewon di Sleman. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman pun meminta agar masyarakat selalu waspada.


Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan mengatakan, beberapa waktu lalu hampir seluruh kapanewon di Kabupaten Sleman merasakan dampak bencana hidrometeorologi.

Berupa pohon tumbang hingga atap rumah yang berterbangan akibat diterpa angin kencang atau puting beliung.


Menurut Makwan, pasca musim kemarau panjang potensi bencana pohon tumbang dan tanah longsor akan meningkat.

Sebab, setelah mengalami kemarau panjang tanah akan dalam kondisi sangat kering.

 

Tanah yang kering atau merekah, lanjut Makwan, dapat mudah gembur ketika diguyur air hujan. Sehingga memungkinkan pohon atau bangunan yang terikat dengan tanah tersebut mudah roboh ketika diterpa angin kencang.


“Karena itu kami meminta masyarakat jika melihat pohon berukuran besar maka kurangi tajuknya (dahannya),” ujar Makwan, Minggu (7/1).


Makwan melanjutkan, selain mengurangi dahan pohon, berbagai benda yang rawan roboh seperti baliho juga perlu diperkuat dan dicek kembali lubang anginnya. Agar tidak mudah roboh ketika terjadi hujan deras yang disertai angin kencang.


Menurut dia, cuaca ekstrim berupa angin kencang biasanya akan disertai hujan deras dalam waktu singkat.

Sementara untuk angin puting beliung di picu munculnya awan cumulonimbus terlebih dahulu dan tidak jarang disertai hujan es. 


“Kondisi itu juga dapat memicu longsor dan banjir lahar hujan kalau itu (cuaca ekstrem) terjadi di lereng Merapi,” ungkapnya.


Menghadapi kondisi tersebut, Pemkab Sleman sebelumnya sudah melaksanakan apel siaga kedaruratan bencana hidrometeorologi.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyampaikan, kepedulian, kolaborasi, dan sinergitas dari semua pihak adalah kunci dalam membentuk budaya siaga kedaruratan.


Selain itu, Kustini juga mengingatkan, setiap orang perlu memiliki kesiapan diri dalam menghadapi bencana yang dapat terjadi kapan saja.

Terlebih Kabupaten Sleman juga berada di kawasan rawan bencana alam. Sehingga pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi situasi darurat menjadi bekal penting yang harus dimiliki oleh masyarakat.


“Dengan berbekal pengetahuan dan pengalaman yang memadai dalam menghadapi bencana maka kita akan mampu bersikap dan bertindak secara cepat dan tepat,” ungkap Kustini.


Di sisi lain, Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Warjono menyebut, ada beberapa hal yang membuat potensi bencana ekstrem di DIY meningkat.

Di antaranya, karena pola siklonik di Jawa bagian selatan yang mulai terbentuk. Kondisi itu memicu penumpukan massa udara. Selain itu kondisi kelembaban udara saat ini juga masuk dalam kondisi basah.


“Kondisi ini yang menyebabkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah DIY lebih dominan terjadi pada siang-sore hari,” terang Jojo sapaanya. (inu)

Editor : Amin Surachmad
#Angin Kencang #bencana hidrometeorogi #BPBD Sleman