RADAR JOGJA - Selama ini kegiatan festival, MICE, pentas musik dan sejenisnya sering dituding sebagai produsen sampah. Pada setiap kegiatan berakhir, sampah menumpuk. Sungguh tidak enak dipandang. Begitu pula kegiatan resepsi pernikahan.
"Kami, yang selama ini bergiat di dalam pariwisata, sangat perhatian dengan persoalan di atas. Di dalam berbagai diskusi, kami terus membahas bagaimana agar event yang kita gelar bisa mengelola sampah dengan baik," ujar Pegiat Sampah dan Wisata Erwan Widyarto.
Sejalan dengan hal tersebut, Erwan pun melakukan aksi nyata saat punya gawe Resepsi Nduwe Mantu. Resepsi Nduwe Mantu yang digelar pada hari Ahad, 31 Desember 2023 ini, mencoba menerapkan konsep minim sampah.
Resepsi syukuran ini untuk dua pasang pengantin. Di pelaminan ada dua pasang pengantin. Zaky Fadhila-Ayu Putri Ana dan Tsany Raihan-Fitri Noviyanti.
"Kami berpikir dari konsep awal pengelolaan sampah yaitu pengurangan. Maka, kami desain satu resepsi yang tidak menggunakan tisu. Mengurangi munculnya sampah tisu," tambah pengelola Bank Sampah Griya Sapu Lidi ini.
Erwan menegaskan, pihaknya ingin langsung action. Tidak meminta pihak lain tetapi memulai dari diri sendiri. Memulai dari yang kecil dan memulai saat ini juga.
Selama resepsi berlangsung, lanjut Erwan, tidak disediakan tisu di lokasi acara. Harapannya, 'langkah kecil' ini migunani untuk bumi.
Terus tamu harus bagaimana? "Tenang saja. Kami sediakan serbet makan yang bisa digunakan kembali. Setiap tamu yang datang akan kami bagi lap makan atau serbet makan. Ini akan dibagikan saat mengisi buku tamu kehadiran. Syukur-syukur tamu sudah terbiasa membawa sapu tangan sendiri hehehe," papar Pengawas Forum Upcycle Indonesia (FUI) ini.
Mengapa tisu yang harus dikurangi? "Kami punya 'Cerita dalam Sepotong Tisu'. Cerita yang harus kita perhatikan dengan serius. Cerita ini ada dalam kemasan suvenir yang kami bagikan untuk para tamu," ungkap pemilik akun @juraganerwan ini.
Cerita apa itu? "Wah, ini sebenarnya rahasia hehehe. Tapi, untuk edukasi, sosialisasi bolehlah saya bocorkan rahasia ini," seloroh Perintis Jawa Pos Radar Jogja ini.
Erwan lantas menyampaikan detail "cerita rahasia" tersebut. Tisu, katanya, meskipun lembut, adalah salah satu sampah anorganik yang sulit terurai.
Dan, sampah tisu di Indonesia itu sebanyak 25 ribu ton/tahun. Bayangkan, tumpukan tisu tersebut memenuhi tempat pembuangan akhir (TPA). Karena tisu selama ini dianggap residu yang harus berakhir di TPA.
Padahal, menurut World Wide Fund (WWF), setiap hari sebanyak 270.000 pohon ditebang untuk membuat tisu. Dan ribuan pohon yang ditebang itu, berakhir sia-sia di tempat sampah.
Selain itu, produksi tisu juga menghabiskan begitu banyak air. Dihabiskan 324.000 liter air untuk membuat 1 ton tisu.
Secara lebih rinci, lanjut Erwan, untuk produksi 1 rol tisu, diperlukan 140 liter air. “Maka jika satu orang per hari menghabiskan 20 lembar tisu, sebanyak 71,4 liter air terbuang sia-sia.“
Pesan kami dan keluarga, sambung Erwan, saatnya kita mengurangi tisu dan kembali menggunakan sapu tangan dan serbet makan.
"Bisa diguna-ulang sehingga tidak menambah sampah," tandasnya.
Selain mengurangi tisu, Resepsi Nduwe Mantu juga “belajar“ mengurangi botol dan gelas plastik. Minuman yang disajikan untuk tamu, semua disediakan dengan gelas kaca. Bukan kemasan plastik.
"Dan alhamdulillah, venue tempat acara kami, ternyata juga sangat peduli dalam hal sampah ini."
Saat technical meeting persiapan acara, Nurul Atik, owner Rocket Convention Hall (RCH) hadir. Nurul menjelaskan bahwa pihaknya selalu sigap mengelola sampah. Dalam waktu satu hingga dua jam setelah acara, venue harus bersih.
Katering yang bekerja sama dengan RCH harus siap mengelola sampahnya. “Sampah sisa makanan harus dibawa keluar sendiri dari RCH."
Selain kampanye pengurangan tisu, resepsi juga menjadi ajang "pameran lukisan". Sejumlah karya Erwan dipajang dan bisa dinikmati tamu.
Editor : Amin Surachmad