SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mencatat ada 176 jiwa yang sampai saat ini masih kesulitan air bersih. Hal itu imbas dari tidak adanya hujan pada penghujung tahun 2023 seperti sekarang.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengatakan, sebanyak 176 jiwa yang kesulitan air bersih itu berada di kawasan lereng gunung Merapi.
Yakni, di wilayah Kaliurang Selatan yang masuk kalurahan Hargobinangun, Pakem.
Dia membeberkan, bahwa ratusan jiwa itu tersebar pada lima RT. Sehingga sampai saat ini pihaknya pun masih terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk melakukan penyaluran air bersih.
“Sampai saat ini memang masih ada wilayah di kabupaten Sleman yang membutuhkan suplai air bersih,” ujar Bambang kepada Radar Jogja, Rabu (27/12).
Bambang menyebut, saat ini BPBD Sleman memang sudah kehabisan anggaran untuk melakukan penyaluran air bersih.
Adapun total anggaran yang mencapai Rp 50 juta itu sudah habis sejak pertengahan bulan November lalu untuk menghadapi kemarau panjang.
Menurutnya, BPBD Sleman hanya bisa mengandalkan bantuan dari lembaga swasta dan instansi lain untuk kegiatan droping air bersih.
Pihaknya pun sampai saat ini belum mengajukan dana darurat ke Pemkab Sleman.
“Kami tidak mengajukan dana barurat BTT (Belanja Tak Terduga). Karena sudah ada bantuan dari instansi, organisasi masyarakat, maupun swasta,” terang Bambang.
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta memprediksi awal tahun nanti sudah mulai memasuki musim penghujan.
Masyarakat pun diminta untuk mewaspadai berbagai potensi bencana hidrometeorologi.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas menyampaikan, mulai dari dasarian tiga bulan Desember 2023 hingga dasarian dua bulan Januari 2024 wilayah Jogjakarta sudah mulai turun hujan. Intensitasnya berkisar 10 sampai 100 mm dengan kriteria rendah-menengah.
Kemudian memasuki awal tahun, Reni menyebut, curah hujan berpotensi meningkat pada kisaran 128-444 mm atau masuk kategori menengah-tinggi dengan sifat hujan bervariasi bawah normal-atas normal.
Memasuki bulan Februari curah hujan terus meningkat pada kisaran 155-449 mm. Lalu di bulan Maret diprediksi naik menjadi 185-473 mm.
“Saat memasuki musim hujan perlu mewaspadai bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan puting beliung yang terjadi di daerah-daerah rawan bencana, terutama di puncak musim penghujan pada bulan Februari 2024,” ungkap Reni. (inu)