Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Endang Sundayani, Difabel Inspiratif Pemilik Usaha Rajut dan Tas Kulit Sred: Because We Care, Berharap Ruang Khusus Produk Difabel dari Pemerintah

Iwan Nurwanto • Selasa, 28 November 2023 | 16:32 WIB
KREATIF: Endang Sundayani saat ditemui dalam kegiatan Pekan Budaya Difabel (PDB) 2023 di Rumah Domes, Prambanan pada Senin (28/11). (IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
KREATIF: Endang Sundayani saat ditemui dalam kegiatan Pekan Budaya Difabel (PDB) 2023 di Rumah Domes, Prambanan pada Senin (28/11). (IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)

 

MENYERAH bukan kata yang tepat bagi Endang Sundayani. Perempuan asal Bandung, Jawa Barat, ini lahir dengan keadaan disabilitas dan harus menggunakan kursi roda setiap harinya. Meski di tengah keterbatasan, dia tetap punya semangat untuk berkarya.


Iwan Nurwanto, Sleman, Radar Jogja


Senyum Endang tampak sumringah ketika menjelaskan tentang produknya dalam kegiatan Pekan Budaya Difabel (PDB) 2023 di Rumah Domes, Prambanan pada Senin (28/11).

Dia menjadi salah satu pengisi stand UMKM dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY tersebut.


Saat ditemui Radar Jogja, dia mengaku sudah menekuni usaha aneka rajutan dan pembuatan tas kulit sejak tahun 2018 lalu bersama suaminya. Nama usahanya Sred dengan slogan "because we care".

Baca Juga: Hanya Sebulan, Dishub Bahas Keberlanjutan Program CFD 2024

Endang menceritakan, awal memulai usahanya itu bermula ketika dia mengikuti pelatihan bersama perkumpulan ibu-ibu di Jogjakarta.

Seiring waktu berjalan, akhirnya dia pun bisa membuat karya dan memilih membuka usahanya sendiri.


Adapun Endang dan suaminya dapat membuat berbagai karya tangan rajutan. Seperti tas, dompet, hingga sepatu.

Selain itu dia juga dapat membuat tas dan dompet kulit. Baik itu dari kulit asli maupun sintetis.


Wanita 40 tahunan itu mengaku, kesulitan yang sampai saat ini dia hadapi adalah tidak mampunya bersaing dengan produk di pasaran.

Lantaran terkadang produk-produk yang hampir mirip dengan karyanya dijual di Pasar Beringharjo dengan harga jauh lebih murah.


“Padahal kita bahan juga beda, namun kerap dibanding-bandingkan. Selain itu memang produk handmade kan lebih mahal,” ujar Endang.

Baca Juga Hanya Diselenggarakan Selama November, Dishub Sleman Bahas Keberlanjutan Program CFD di Tahun 2024

Terkait dengan masalah tersebut, dia berharap agar pemerintah dapat memberi perhatian. Yakni dengan ruang khusus. Agar kemudian penyandang disabilitas dapat menawarkan produk-produknya.


Endang yang kini berdomisili di kalurahan Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, itu menyatakan, selama ini dia dan suaminya hanya mampu menjual produknya lewat pameran-pameran.

Selain itu, melakukan promosi dari mulut ke mulut dan sosial media.

Baca Juga: Harga Kedelai Masih Naik, Pakar Sebut Faktor Perekonomian Global dan Perubahan Iklim

“Untuk harga dompet harganya mulai dari Rp 25 ribu ada juga Rp 45 ribu, kalau tas sampai Rp 300 ribuan,” terang Endang.


Selain memiliki usaha kerajinan tangan rajut dan kulit, Endang mengaku juga cukup gemar bernyanyi dan memiliki bakat dalam bidang presenter. Dia pun bersedia untuk mengisi berbagai acara jika dibutuhkan.

Editor : Amin Surachmad
#Pekan Budaya Difabel #Difabel #UMKM