Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harga Kedelai Masih Naik, Pakar Sebut Faktor Perekonomian Global dan Perubahan Iklim

Elang Kharisma Dewangga • Senin, 27 November 2023 | 00:30 WIB
CERMAT: Proses produksi makanan berbahan kedelai di Jogjakarta. (Dok Elang Kharisma Dewangga)
CERMAT: Proses produksi makanan berbahan kedelai di Jogjakarta. (Dok Elang Kharisma Dewangga)

 

JOGJA - Harga kedelai impor masih mengalami kenaikan. Harga kedelai per kilogram semula Rp 10 ribu rupiah naik turun berkisar menjadi Rp 11 ribu hingga Rp13 ribu per kilogram.


Pakar agrometeorologi, ilmu lingkungan dan perubahan iklim UGM Bayu Dwi Apri Nugroho mengatakan, penggunaan kedelai impor karena pasokan kedelai lokal masih minim.

Kebutuhan kedelai tahunan di Indonesia mencapai 2,7 juta ton. Sedangkan produksi dalam negeri berada dalam kisaran 355 ribu ton.

Baca Juga: Hanya Bisa Kurangi Ukuran atau Naikkan Harga, Pilihan Perajin Tempe dan Tahu saat Kedelai Lebih dari Rp 12 Ribu per Kg

Dia menilai kenaikan harga kedelai impor disebabkan kondisi perekonomian global. Nilai tukar rupiah terhadap dolar menurun. Biaya angkut dari negara asal ke Indonesia mengalami kenaikan.

Ditambah, beberapa negara penghasil kedelai seperti Amerika Serikat dan Brasil baru akan memasukin masa panen sekitar bulan Desember 2023 sampai Januari 2024.


“Tentu saja semua berimbas pada harga kedelai impor yag beredar di pasaran,” ujarnya Minggu (26/11/2023).

Baca Juga: Tersandera Kedelai Impor, Perajin Perkecil Ukuran Tahu Tempe

Faktor lain yang menyebabkan kenaikan harga ialah pembatasan ekspor oleh negara penghasil kedelai. Pembatasan dilakukan karena poduksi kedelai di dalam negeri mereka sedang mengalami penurunan.


Salah satu faktor penyebab ialah dampak perubahan iklim. Kondisi iklim yang berubah menyebabkan produksi kedelai tidak maksimal.


“Fenomena El Nino, sebagai salah satu indikator perubahan iklim tahun 2023 menjadi faktor penyebab terjadinya penurunan produksi di berbagai negara penghasil kedelai,” jelasnya.


Menurutnya, beberapa langkah yabg bisa ditempuh oleh pemerintah ialah sementara pemberian subsidi. Namun hal yang paling penting ialah solusi jangka menengah hingga panjang.

Di antaranya, mengembangkan varietas kedelai unggul yang sesuai dengan kondisi lingkungan di Indonesia. 

Baca Juga: Telah Tercapai, Target 410 Bidang Tanah Milik Pelaku UMKM di Purworejo Bersertifikat Terealisasi Seratus Persen

“Karena kita tahu kedelai ini sangat cocok ditanam di kondisi iklim sub tropis. Meski begitu untuk di Indonesia dengan iklim tropis bisa juga tumbuh walaupun hasilnya tidak maksimal,” ujarnya.


Sebelumnya, Ketua Pusat Koperasi Tempe-Tahu Indonesia (Puskopti) DIY Tri Harjono mengatakan perajin tahu-tempe di DIY sampai masih mengandalkan pasokan kedelai impor. Sebab kedelai lokal masih minim dan lebih banyak dialokasikan untuk benih.


“Konsumsi kedelai se-DIY tiap kabupaten sekitar 150 ton per bulan dan itu impor semua,” ujarnya.


Lebih lanjut, Tri menyebut para perajin tahu dan tempe sudah terbiasa dengan harga kedelai yang fluktuatif. Sehingga yang dilakukan mengurangi ukuran atau menaikkan harga. Meski begitu, saat ini belum dilakukan. (lan)

 
Editor : Amin Surachmad
#kedelai lokal #UGM #Kedelai Impor