SLEMAN - Jogjakarta merupakan daerah yang tidak bisa dipisahkan dari budayanya. Di setiap kalurahan, bahkan padukuhan, mayoritas mempunyai cerita yang unik dan menarik.
Salah satunya Padukuhan Kebondalem. Mereka memiliki tradisi Songsong Nolobondho, yang masih dilaksanakan hingga sekarang.
Padukuhan Kebondalem terletak di Kelurahan Madurejo, Prambanan, Sleman. Dusun tersebut dikelilingi area persawahan yang luas.
Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani yang mengandalkan hasil panen untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Untuk mengekspresikan rasa syukurnya, setela panen para petani mengadakan merti dusun dan tradisi Songsong Nolobondho.
Salah seorang sesepuh di Kebondalem, Tukimin, menceritakan sejarah tercetusnya tradisi Songsong Nolobondho yang lekat dengan sosok tokoh cikal bakal kalurahan tersebut. Sosok tersebut adalah Ki Surotanu/Singoranu yang terkenal dengan sebutan Ki Nolobondho.
Ki Nolobondho merupakan prajurit dari Kerajaan Majapahit yang melarikan diri saat keruntuhan kerajaan itu pada abad ke-15. Saat pelariannya tersebut, Ki Nolobondho mendiami daerah yang sekarang dikenal dengan Kebondalem tersebut.
"Makamnya masih ada, beliau dimakamkan di makam Watu Gong yang masih masuk wilayah Dusun Kebondalem," ujarnya.
Baca Juga: Panahan DIJ Loloskan Enam Tim ke PON XXI, Tembus Semua Divisi Nomor Beregu
Pada awalnya, tradisi Songsong Nolobondho merupakan suatu bentuk ritual yang dilakukan oleh Ki Nolobondho untuk mengatasi pagebluk di Kebondalem. Tradisi tersebut dilakukan dengan mengarak pusaka yang dimiliki Ki Nolobondho mengelilingi Dusun Kebondalem.
Atas usaha tersebut, akhirnya pagebluk bisa diredamkan. Dari sanalah tradisi tersebut ada dan sampai sekarang tetap dilestarikan oleh warga Dusun Kebondalem.
Namun, pusaka asli tersebut tidak bisa sembarangan di keluarkan dari tempatnya. Pusaka tersebut dikeluarkan hanya pada saat tradisi Songsong Nolobondho diselenggarakan.
"Pusakanya ada dua berupa tombak dan payung. Nama pusaka tersebut adalah tombak Nogo Welat dan Payung Tunggul Nogo. Keduanya masih disimpan oleh ahli waris dirumahnya," tegasnya.
RBaca Juga: Lansia di Gunungkidul Meninggal Mengenaskan, Wajah Ditutup Bantal saat Dibuka Ada Luka dan Lebam
Kepala Dusun Kebondalem Galuh Ade Novi menambahkan, tradisi Songsong Nolobondho dilaksanakan setiap selesai masa panen yang dibarengkan dengan merti dusun.
Kegiatan ditutup dengan acara wayang dengan lakon Brotoyudho. Kegiatan tersebut dari dulu rutin dilakukan, bahkan jika tidak dilakukan masyarakat akan menanyakannya.
"Dana untuk melaksanakan kegiatan tersebut berasal dari kantong pribadi masyarakat, khususnya para pemilik sawah yang berhasil panen. Masyarakat dengan sukarela melakukan iuran agar tradisi tersebut dapat terselenggara," tuturnya.
Tradisi tersebut harapannya selalu diadakan. Itu menjadi sebuah bukti upaya pelestarian budaya. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi wadah silaturahmi dan guyub rukun masyarakat Dusun Kebondalem. (cr5/Agung Dwi Prakoso)