Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sudah Hujan tapi Kok Suhu Udara di Jogja Masih Gerah ? Begini Penjelasan BMKG

Iwan Nurwanto • Minggu, 5 November 2023 | 18:21 WIB

ilustrasi hujan
ilustrasi hujan

SLEMAN - Beberapa kabupaten/kota di Jogjakarta kini sudah mengalami musim penghujan.

Namun ada sebagian wilayah yang masih merasakan suhu panas.

Lantaran awan hujan belum sepenuhnya terbentuk.


Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas mengatakan, pada awal bulan November ini untuk DIJ pada umumnya sebagian wilayah belum masuk musim penghujan.

Namun masih masuk dalam masa-masa pancaroba.


"Kondisi tersebut membuat awan-awan hujan belum banyak terbentuk. Terlebih lagi dengan masih adanya fenomena El Nino yang menyebabkan intensitas curah hujan berkurang," ujar Reni kepada Radar Jogja, Minggu (5/11).


Reni melanjutkan, dengan kondisi awan-awan hujan yang belum terlalu banyak itu.

Maka intensitas radiasi sinar matahari pun dapat maksimal diterima bumi.

Hal itu yang kemudian membuat suhu udara di Jogjakarta masih terasa gerah atau panas.


Dia menjelaskan, bahwa untuk saat ini posisi matahari sudah perlahan- lahan bergerak ke selatan menjauhi equator.

Walaupun begitu, radiasi dari sinar matahari tetap memberikan efek pada suhu udara yang cenderung panas di wilayah DIJ.


"Namun seiring waktu masuk musim hujan, maka rata-rata suhu udara max di DIJ akan cenderung turun kembali. Berkisar 30 sampai 33 derajat celcius," terang Reni.


Dari sisi kesehatan, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman Esti Kurniasih sebelumnya menyampaikan, penyakit pernapasan paling banyak dikeluhkan pada puncak musim kemarau.

Penyebabnya karena kondisi udara yang kering, membuat banyak debu berterbangan.


Hal ini diperparah dengan banyaknya masyarakat yang tidak menggunakan masker.

Berdampak pada masifnya penyebaran jenis penyakit tersebut.

Sebab dengan tidak terlindunginya sistem pernapasan seperti hidung dan mulut, membuat virus penyakit semakin mudah ditularkan antar-manusia.


"Untuk musim kemarau yang paling banyak dikeluhkan batuk dan pilek karena banyak debu," beber Esti. (inu)

Editor : Bahana.
#kemarau #Hujan #BMKG