RADAR JOGJA - Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak (BBWSSO) berencana membuka pintu air Bendung Karangtalun hari ini (21/10). Pembukaan aliran air untuk mengairi Selokan Mataram ini lebih cepat dari rencana sebelumnya, yang dijadwalkan akhir bulan.
Ahli Madya Bidang Pelaksanaan Jaringan Air BBWSSO Rr. Vicky Ariyanti mengatakan, pembukaan pintu air Bendung Karangtalun dilaksanakan pukul 20.00. Menurutnya, dapat kembali dialirkannya air ke Selokan Mataram karena proyek revitalisasi sudah cukup aman. Terlebih juga sudah dibuat bangunan ukur pada pintu air di Bligo, Magelang, Jawa Tengah."Namun perlu menjadi perhatian, debit pengalirannya nanti menyesuaikan," ujar Vicky Jumat (20/10/23).
Sementara untuk saluran Van Der Wijck, dia menyebut, pembukaan saluran air yang dibangun pada 1909 itu baru bisa dilakukan awal November mendatang. Dikarenakan sudah ada kesepakatan pematian rutin tahunan pada Oktober. Namun di samping itu, juga ada penyempurnaan sekaligus pekerjaan tambahan saluran air di Sedayu Barat dan Kergan."Mohon maaf belum bisa mengalirkan yang di Van Der Wijck," sambung Vicky.
Sebagaimana diketahui, proyek revitalisasi Selokan Mataram yang dilakukan oleh BBWSSO meliputi pembangunan bangunan ukur di saluran induk, pembangunan pintu air, pemeliharaan, sekaligus pengerukan sedimentasi. Proyek tersebut dimulai pada 1 Oktober dan dijadwalkan selesai 31 Oktober.
Menurut Vicky, adanya pembangunan pintu air akan berdampak pada efektivitas jaringan air di Selokan Mataram dan saluran Van Der Wijck. Sebab masing-masing pintu air dapat dibuka maupun ditutup tanpa harus dimatikan bersamaan."Pengerjaan pembangunannya kami menggunakan zat adiktif agar bisa dipercepat," bebernya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman Suparmono menyatakan, penutupan Selokan Mataram sangat berdampak pada sektor perikanan dan pertanian di Kabupaten Sleman. Menurutnya, ada 28 kelompok pembudidaya ikan yang terkena imbas penutupan Selokan Mataram. Mayoritas pembudidaya terdampak tidak bisa melakukan produksi.
Sementara di sektor pertanian, imbas ditutupnya Selokan Mataram dan kemarau panjang membuat 1.875 hektare lahan pertanian dibiarkan terbengkalai. Penundaan masa tanam dalam jangka waktu tertentu (bero) ini karena lahan yang ada di sembilan kapanewon sulit mendapatkan pasokan air.
"Dampak kekeringan yang paling bisa terjadi puso atau gagal panen, lainnya berupa penurunan hasil panen hingga 25-45 persen," kata Pram, sapaan akrabnya. (inu/eno)
Editor : Satria Pradika