RADAR JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mencatat ada peningkatan jumlah penyaluran air bersih atau dropping ke wilayah terdampak kekeringan.
Hingga pertengahan bulan Oktober ini bahkan dropping air bersih sudah tembus satu juta liter.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Bambang Kuntoro mengatakan, sejak tanggal (14/8/2023) hingga Senin (16/10/2023) air bersih sudah di dropping menyentuh 1,01 juta liter.
Adapun penyalurannya ke lima kalurahan di empat kapanewon terdampak kekeringan.
Baca Juga: Don’t Scream, Game Horor yang Melarang Kamu Berteriak
Bambang membeberkan, empat kapanewon itu meliputi Tempel di Padukuhan Jambean, Tangisan, Plambongan kalurahan Banyurejo sebesar 170 ribu liter. Lalu kalurahan Margorejo dengan total distribusi 15 ribu liter ke Puskesmas Tempel 1.
Kemudian di kalurahan Hargobinangun, Pakem meliputi padukuhan Kaliurang Timur sebesar 639 ribu liter, Kaliurang Barat 156 ribu liter, dan SMP N 2 Pakem 11 ribu liter.
Selain itu, di kapanewon Ngaglik tepatnya Padukuhan Nulisan, kalurahan Sumberagung juga dilakukan dropping air bersih sebanyak 12 ribu liter. Serta di Puskesmas Ngaglik II di kalurahan Donoharjo sebesar 8 ribu liter.
"Untuk jumlah jiwa yang terdampak mencapai 243 kepala keluarga (KK) atau 1.184 jiwa," ujar Bambang kepada Radar Jogja, Selasa (17/10/2023).
Baca Juga: Pecinta Makanan Jepang, Ini Dia 5 Rekomendasi Ramen Hits di Jogja, Wajib Masuk List Kuliner!
Lebih lanjut, Bambang menyatakan, bahwa anggaran untuk kegiatan dropping air juga masih tersedia. Sampai saat ini pihaknya menggunakan alokasi dari APBD 2023.
Sementara jika nantinya APBD tersebut habis, BPBD Sleman masih memiliki anggaran Belanja Tak Terduga (BTT). Disamping itu pemerintah pun juga dibantu oleh pihak swasta untuk penyaluran air bersih.
"Untuk anggaran masih aman," katanya.
Sementara di sektor pertanian, Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman Suparmono menyebut, total luas lahan yang berpotensi terdampak kekeringan mencapai 1.068,6 hektar. Dengan komoditas yang ditanam berupa padi dan holtikultura.
Adapun untuk wilayah sebarannya di kapanewon Seyegan, Minggir, dan Moyudan. Di beberapa wilayah itu, disebutnya, lahan pertanian sudah mengalami nelo atau tanah pecah-pecah akibat kadar air yang menurun.
"Dampak kekeringan yang paling bisa terjadi puso atau gagal panen, lainnya berupa penurunan hasil panen hingga 25 sampai 45 persen," terang Pram. (inu)
Editor : Bahana.