SLEMAN, RADAR JOGJA - Pemkab Sleman mencatat ada lahan pertanian di sembilan kapanewon yang kesulitan pasokan air. Lantaran terdampak penutupan Selokan Mataram serta kondisi kemarau panjang tahun ini.
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Suparmono mengatakan, akibat kondisi kekurangan air tersebut sebagian lahan pertanian pun dibiarkan terbengkalai. Yang istilahnya dalam bahasa Jawa bero atau ditunda masa tanam dalam jangka waktu tertentu.
Pram sapaanya merinci, di kapanewon Minggir ada sekitar 678 hektar lahan pertanian yang dibiarkan bero. Kemudian kapanewon Moyudan yang ditunda masa tanamnya mencapai 923 hektar. Lalu di kapanewon Seyegan ada 85 hektar yang dibiarkan bero.
DP3 Sleman juga mencatat ada 14 hektar lahan pertanian di kapanewon Tempel yang dibiarkan bero. Kemudian di kapanewon Mlati 82 hektar lahan. Lalu kapanewon Gamping seluas 49 hektar lahan. Serta di kapanewon Depok lahan yang bero seluas dua hektar.
Baca Juga: Manjakan Tenggorokan dengan Es Segar-segaaaar di Tengah Panas Ngentang-ngentang !
"Untuk di kapanewon Kalasan 251 hektar lahan yang menggantungkan Selokan Mataram, namun kekurangan air bisa diatasi dengan bantuan pompa," ujar Pram kepada Radar Jogja, Senin (16/10).
Lebih lanjut, akibat penutupan Selokan Mataram dan kemarau panjang tahun ini ada 1.068,6 hektar lahan yang terdampak. Pram menyebut, akibat kondisi itu bisa terjadi puso atau gagal panen. Serta penurunan hasil panen hingga 25 sampai 45 persen.
Pada beberapa wilayah seperti Seyegan, Minggir, dan Moyudan. Disebutnya, lahan pertanian juga udah mengalami nelo atau tanah pecah-pecah akibat kadar air yang menurun.
Guna meminimalisasir dampak kerugian, menurutnya para petani sudah menyiapkan langkah berupa bero tersebut. Kemudian memanfaatkan bantuan pompa air dan sumur ladang.
"Serta berganti menanam komoditas palawija atau hortikultura," imbuh Pram.
Baca Juga: Dibersihkan Bupati, Pemilik Ruko Diminta Jaga Kebersihan
Sebagaimana diketahui, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak (BBWSSO) bakal menutup aliran Selokan Mataram selama satu bulan. Terhitung dari tanggal 1 Oktober sampai dengan 31 Oktober 2023 mendatang.
Ahli Madya Bidang Pelaksanaan Jaringan Air BBWSSO Rr. Vicky Ariyanti menyatakan, penutupan aliran Selokan Mataram dilakukan karena beberapa proyek. Di antaranya pembangunan bangunan ukur saluran induk, pembangunan pintu, serta pemeliharaan sekaligus pengerukan sedimentasi.
"Proyek tersebut sebenarnya direncanakan berjalan selama dua bulan. Namun dipercepat hanya satu bulan di Oktober karena melihat dampak dari pematian aliran air di Selokan Mataram," bebernya. (inu)
Editor : Bahana.