Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

123 Anak Alami Kekerasan, DP3AP2KB Sleman Sebut Semakin Banyak Yang Berani Melapor

Iwan Nurwanto • Jumat, 13 Oktober 2023 | 17:35 WIB
Kepala DP3P2KB Sleman Wildan Solichin.IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA 
Kepala DP3P2KB Sleman Wildan Solichin.IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA 

RADAR JOGJA - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3P2KB) Sleman mencatat ada ratusan tindak kekerasan terhadap anak. Upaya penanganan secara cepat pun dilakukan instansi tersebut.


Kepala DP3P2KB Sleman Wildan Solichin mengatakan, hingga September ada 123 kasus kekerasan terhadap anak yang tercatat di Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA). Dari jumlah itu, korban kekerasan 87 di antaranya anak perempuan dan 36 anak laki-laki.


Dia menyebut, banyaknya kasus kekerasan anak tidak selalu menjadi hal yang buruk. Karena hal itu dapat menjadi bukti bahwa korban kekerasan semakin berani untuk melapor. Sehingga pemkab pun juga lebih cepat dalam melakukan penanganan.


Wildan membeberkan, kasus kekerasan terhadap anak di Sleman disebabkan berbagai faktor. Namun secara garis besar, masalah ekonomi kerap menjadi salah satu pemicunya. Karena berdampak pada keharmonisan orang tua. "Kami terus lakukan edukasi agar kasus kekerasan terhadap anak bisa dicegah, dan anak tidak menjadi korban," ujar Wildan Kamis (12/10/23).


Mantan Camat Berbah itu mengungkapkan, DP3P2KB Sleman telah bekerja sama dengan berbagai pihak sebagai upaya pencegahan. Contohnya di lingkungan sekolah dengan menjalankan program Goes To School bersama Satpol-PP dan Polresta Sleman.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan anak-anak dapat melakukan kegiatan yang bersifat positif selama berada di dalam lingkungan sekolah. Agar kemudian terhindar dari tindak kejahatan maupun kekerasan.


Sementara di lingkungan luar sekolah, Wildan mengaku, telah berkoordinasi dengan satuan tugas (satgas) perlindungan anak dan perempuan di setiap kalurahan. Peran daripada satgas itu akan membantu dalam hal pencegahan serta pelaporan, apabila terjadi kekerasan yang melibatkan anak dan perempuan. "Artinya kami sudah melakukan berbagai upaya dan tindakan cepat agar kasus kekerasan anak bisa tertangani," tegas Wildan.


Selain marak kasus kekerasan terhadap anak, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman juga mencatat banyak kasus persalinan anak di bawah umur. Yang penyebabnya karena hubungan seksual di luar nikah.


Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Esti Kurniasih mengatakan, hingga Agustus sudah ada 48 kasus persalinan usia anak/remaja. Dari jumlah tersebut, 46 anak di antaranya dari dalam wilayah Sleman. Sementara dua sisanya berasal dari luar wilayah.
Pihaknya sudah melakukan berbagai upaya mencegah kasus persalinan usia anak/remaja terus bertambah. Di antaranya dengan edukasi atau penyuluhan kesehatan reproduksi secara periodik setiap tahun ajaran baru di sekolah-sekolah.


Kemudian, Dinkes Sleman juga rutin melakukan penyuluhan sesuai permintaan atau kebutuhan sekolah. Lalu dengan kegiatan edukasi posyandu remaja. Serta upaya promotif preventif, melalui kegiatan kampus sehat dan edukasi kesehatan reproduksi bagi mahasiswa baru. "Untuk upaya yang sudah dilakukan banyak," ucap Esti. (inu/eno)

Editor : Satria Pradika
#Satgas #Sleman #kekerasan anak