JOGJA - Konflik di Jalur Gaza belum usai. Situasi konflik yang terjadi saat ini di Jalur Gaza merupakan salah satu yang terparah sejak tahun 2008.
Hal ini diungkapkan oleh Abdillah Onim, WNI yang sudah bermukim di Jalur Gaza selama 12 tahun. Onim merupakan seorang aktivis kemanusiaan yang sudah 12 tahun tinggal di jalur Gaza.
Baca Juga: Rusia Tegaskan Pembentukan Negara Palestina Disegerakan, Tidak Bisa Ditunda LagiDia dihadirkan oleh Program Studi Hubungan Internasional UII Jogja dalam acara konferensi bertajuk Konflik Israel-Palestina 2023: Sebuah Tinjauan Komprehensif Mengenai Situasi Terkini, digelar melalui telekonferensi.
Pada kesempatan itu, dia menceritakan kisah perang Hamas kontra Israel yang dimulai sejak Sabtu (7/10/2023) pagi.
Baca Juga: Jokowi: Hentikan Konflik Palestina-Israel, Perintahkan Menlu Lindungi WNI“Hari pertama tanggal 7 Oktober, saya setelah selesai salat subuh, sekitar jam 05:00 waktu setempat. Saya ingin rebahan sebentar tapi belum 10 menit, sudah ada suara tembakan rudal dan itu tidak ada tanda-tanda,” ujarnya membuka kisah hari pertama Hamas menyerang Israel ke mahasiswa UII Jogja.
Dia mengatakan kondisi itu baru pertama kali terjadi dalam sejarah, bahwa pejuang Palestina di Gaza melakukan perlawanan besar-besaran di pusat jantung Israel.
Baca Juga: Palestina Memanas Kembali, Fans Celtic Dukung PalestinaKondisi di sana diperparah dengan rencana Pemerintah Israel yang menutup semua akses air, listrik dan kebutuhan dasar bagi masyarakat Gaza.
Onim menyebut setidaknya ada 10 orang WNI yang berada di jalur Gaza. Mereka semua merupakan aktivis kemanusiaan. Pihaknya telah merencanakan evakuasi 10 WNI yang saat ini
bermukim di Jalur Gaza dengan pihak-pihak terkait. Diantaranya Menlu Republik Indonesia, Direktur Perlindungan WNI, KBRI Kairo dan Jusuf Kalla sebagai Ketua Palang Merah Indonesia.
Baca Juga: Industri Ekonomi Kreatif Menjanjikan, Bupati Kebumen: Bekerja Tak Harus di Lingkungan Pemkab Atau PabrikSesuai dengan rencana, Onim beserta keluarga dan 10 WNI di Jalur Gaza akan melakukan evakuasi melalui Pintu Lintas Batas Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dengan kota Rafah di Mesir.
Setelah evakuasi berhasil, Bang Onim menyatakan bahwa rombongan WNI dari Jalur Gaza akan bermukim di Mesir selama satu bulan atau hingga situasi di Jalur Gaza membaik.
Baca Juga: Cedera Andreas Esswein dan Yudha Alkhanza Sudah MembaikMeski begitu, Bang Onim mengatakan bahwa rencana evakuasi ini sulit untuk dilaksanakan karena gempuran bom dari Israel begitu intens. Dan tidak memungkinkan mobil evakuasi untuk dapat menjangkau WNI yang saat ini bermukim di Jalur Gaza.
Namun hingga saat ini Onim beserta dengan komunitas WNI di Jalur Gaza tetap menjaga komunikasi intens dengan misi diplomatik Indonesia yang terdekat dengan Gaza, yakni KBRI Kairo. (lan)