RADAR JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat sedikitnya sudah melakukan droping 54 tangki air bersih selama musim kemarau. Jumlah tersebut setara dengan 270.000 liter air bersih .
Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan mengatakan, pemerintah sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan dari tanggal 1 Agustus sampai 31 Oktober 2023. Adapun yang sudah terdampak pada tahun ini ada di wilayah lereng Gunung Merapi dan Sleman bagian barat.
Meliputi dua RT di Padukuhan Kaliurang Timur, Hargobinangun, Pakem. Karena mata air Kletak yang selama ini memasok kebutuhan air masyarakat debitnya menurun drastis dan tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
"Droping air kami lakukan dengan mengisi bak penampungan warga, lalu disalurkan lewat pipa secara gravitasi," ujar Makwan kepada Radar Jogja Jumat (22/9/23).
Lebih lanjut, BPBD juga melakukan droping air di wilayah Kalurahan Sumberarum, Moyudan tepatnya padukuhan Sejati. Makwan menyebut, di wilayah itu sumur warga mengalami penurunan pasokan air bersih lantaran muka air Sungai Progo menurun.
Sehingga, BPBD Sleman pun melakukan penyedotan air dari Sungai Progo sejauh 100 meter ke arah permukiman warga. Agar kemudian air bisa meresap lalu tersaring kedalam tanah untuk masuk kedalam sumur. "Setelah (air, Red) masuk ke sumur, dipompa di bak penampungan," beber Makwan.
Sebelumnya, Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Warjono menyatakan, wilayah DIJ akan menghadapi musim kemarau hingga akhir Oktober mendatang. Dibandingkan dengan tahun lalu, menurutnya, musim kemarau tahun ini memang lebih lama.
"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk memanen hujan karena ada peluang, bisa dipanen atau ditampung untuk menghadapi kemarau yang masih panjang," pesannya. (inu/eno)
Editor : Satria Pradika