Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jogja Istimewa! Hari Ini Saparan Bekakak di Ambarketawang, Diperintahkan Hamengku Buwono I sejak Tahun 1775

Amin Surachmad • Jumat, 1 September 2023 | 11:28 WIB

BUDAYA: Ogoh-ogoh yang ditampilkan dalam Saparan Bekakak. (Dok Radar Jogja)
BUDAYA: Ogoh-ogoh yang ditampilkan dalam Saparan Bekakak. (Dok Radar Jogja)

SLEMAN - Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jogja Istimewa.


Predikat itu disematkan pada Provinsi DIY secara de facto dan de jure. Ini tertuang dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY. Tahun ini, tepatnya 3 September, Undang-Undang Keistimewaan DIY yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut genap sebelas tahun.

Salah satu tonggak keistimewaan Jogjakarta adalah keberadaan Pesanggrahan Ambarketawang. Termasuk, budaya Saparan Bekakak.

Baca Juga: Ribuan Orang Berebut 1,5 Ton Apem, Dalam Tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo

Hari ini, Jumat Kliwon 1 September 2023, akan digelar upacara adat Saparan Bekakak. Kirab budaya itu akan dimulai dari Balai Kalurahan Ambarketawang, Gamping, Sleman. Start sekitar pukul 14.00.

Saparan Bekakak lekat dengan keberadaan Keraton Jogja dan peradaban masyarakatnya. Waktu itu, Pangeran Mangkubumi membangun keraton di wilayah Jogjakarta sekitar tahun 1775.

Selama pembangunan keraton tersebut, Pangeran Mangkubumi tinggal di sebelah barat lokasi pembangunan keraton. Yakni, di pesanggrahan yang terletak di Ambarketawang. Daerah itu dulunya banyak terdapat pegunungan baru kapur. Oleh masyarakat setempat, biasa disebut Gunung Gamping.

Baca Juga: Angkat Kisah Ratu Ageng karena Punya Nilai Sejarah Budaya bagi Masyarakat Jogja

Pangeran Mangkubumi tinggal di sana bersama sejumlah abdinya yang setia. Salah satunya adalah Kiai Wirasuta. Bahkan, Wirasuta merupakan dhalem kinasih, abdi yang
dikasihi.

Batu kapur di daerah itu dimanfaatkan sebagai mata pencaharian oleh masyarakat sekitar sebagai mata pencaharian. Kapur diambil untuk dijual.

Ketika keraton selesai dibangun, Pangeran Mangkubumi dan para abdi dhalem akan pindah ke keraton. Tapi, Kiai Wirasuta dan istrinya, Nyai Wirasuta, memilih tetap tinggal di Pesanggarahan Ambarketawang.

Baca Juga: Laka Maut Truk Sarat Penumpang Masuk Jurang di Kebumen, Lima Orang Meninggal

Pangeran Mangkubumi pun boyongan ke keraton. Kemudian, menjadi Raja Keraton Jogja dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
tersebut.

Suatu ketika, terjadi malapetaka di Ambarketawang. Gunung Gamping yang menjadi tempat tinggal Kiai Wirasuta runtuh hingga menimbun rumahnya. Itu terjadi pada hari Jumat Kliwon di bulan Sapar dalam kalender Jawa.

Peristiwa itu merenggut nyawa Kiai Wirasuta dan istrinya. Juga, sejumlah warga yang sedang bekerja mencari batu kapur.

Baca Juga: Brak, Adu Banteng Bus Sugeng Rahayu Vs Eka di Ngawi Begini Kondisinya

Kejadian ini diketahui oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Sang raja memerintahkan prajuritnya untuk mencari Kiai Wirasuta dan istrinya.

Mereka menggali reruntuhan di lokasi Pesanggrahan Ambarketawang. Semua material kapur berhasil dibersihkan.

Namun, terjadi keanehan. Para prajurit tersebut tidak menemukan jasad Kiai Wirasuta dan istrinya. Jasad kedua abdi dhalem tak ditemukan. Masyarakat setempat meyakini Kiai dan Nyai Wirasuta muksa atau menghilang.

Baca Juga: 11 Tahun UU Keistimewaan DIY ,Semakin Merata Dirasakan Semua Warga

Malapetaka ini membuat masyarakat Ambarketawang resah. Terutama, resah dengan terjadinya malapetaka setiap bulan Sapar di mana para pekerja batu kapur tertimbun runtuhan gunung.

Keresahan masyarakat ini disikapi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Dia memerintahkan untuk diadakan upacara ritual setiap bulan Sapar. Bentuknya dengan menyembelih sepasang pengantin bekakak di Gunung Gamping untuk menolak bala dan menjauhkan masyarakat dari malapetaka.

Sepasang pengantin bekakak ini terbuat dari ketan yang dibentuk menyerupai manusia yang menjadi pengantin. Bagian dalamnya diisi air gula kelapa. Dibuat sedemikian rupa seolah mengenakan busana pengantin Jawa dan riasan.

Baca Juga: Semakin Nyata Dana Keistimewaan untuk Kesejahteraan Masyarakat

Sepasang bekakak itu ditempatkan pada jodhang, semacam tandu kecil. Jodhang dihias beragam bunga dan dedaunan.

Di akhir kirab, bekakak tersebut disembelih. Ketika disembelih, gula merah yang keluar dari bekakak seolah-olah mengeluarkan darah.

Editor : Amin Surachmad
#pesanggrahan Ambarketawang #Saparan Bekakak #kirab budaya #Pangeran Mangkubumi