SLEMAN - Metode memanen air hujan menjadi salah satu solusi kekeringan saat musim kemarau. Metodenya air hujan ditampung lalu dialihkan ke sumur biasa maupun resapan. Dengan cara ini, debit air sumur akan stabil saat musim kemarau datang.
"Kualitas air sumur naik. Air hujan bagus banget, ngencer. Kalau 5 hingga 6 bulan diisi air hujan, maka air sumur kita jadi bersih," ujar Admin Gerakan Memanen Hujan Indonesia (GMHI) yang juga Dekan Sekolah Vokasi UGM Agus Maryono Rabu (30/8/2023).
Agus menyebut di negara maju seperti Australia dan Amerika, memanen air hujan menjadi salah satu trend. Khusus di DIY, sebetulnya metode itu sudah digunakan di daerah Gunung Kidul pada jaman dahulu. Namun saat ini justru jarang ada di rumah warga.
"Air hujan adalah the future of water resources. Kita harus memulai sekarang," ujarnya.
Belakangan ini, warga Gunung Kidul banyak yang beralih menggunakan sumber air lain. Salah satunya air berbayar. Bahkan, Agus menyebut saat ini jarang ada rumah warga yang memiliki tandon air hujan. Kondisi ini dinilai memprihatinkan.
"Dulu jaman kecil saya, banyak kan yang punya itu. Sekarang kayaknya malah malu. Dengan bilang, 'maaf sudah gak punya', indikasi malu kan," ujarnya.
Lebih lanjut, Agus mengatakan selain sebagai solusi kekeringan saat kemarau, air hujan dinilai sangat baik. Bahkan menyehatkan dan bisa langsung diminum karena PH atau derajat keasaman atau kebasaan bagus.
"Air hujan baik. Kalau kita lihat air hujan itu the best, ada PH yang orang takut ph rendah ternyata cukup bagus 7,2 sampai 7,4 berarti oke," ujarnya.
"Dari 21 sifat chemical, itu air hujan masih berada jauh daripada air standar. Sehingga saya berani katakan, rain water, saya garansi (bagus, red) saya juga minum," lanjutnya.
Agus berharap metode memanen air hujan yang sebetulnya sudah ada sejak dahulu dapat diterapkan kembali oleh masyarakat. Baik di lingkungan pedesaan maupun perkotaan. Sehingga saat musim kemarau datang, ada air yang sebetulnya bisa ditampung di bawah tanah.
Apalagi, peralatan yang digunakan cukup sederhana dan terjangkau. Meski metode ini sangat sederhana namun berdampak besar. (lan).
Editor : Amin Surachmad