SLEMAN, RADAR JOGJA - Sebanyak 1,5 ton kue apem akan dibagikan dalam acara Saparan Ki Ageng Wonolelo ke-56 yang diselenggarakan di Dusun Pondok Wonolelo, Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman pada Jumat (25/8/2023) siang. Dipilihnya kue apem dalam kegiatan tersebut ternyata memiliki sejarah. Berikut penjelasannya.
Ketua Panitia Saparan Ki Ageng Wonolelo Wartono mengatakan, pemilihan kue apem dalam kegiatan tersebut ternyata bermula dari kepulangan Ki Ageng dan Nyi Ageng Wonolelo menunaikan ibadah haji. Usai pulang dari tanah suci, keduanya membawa oleh-oleh berupa kue gimbal.
Namun, oleh Ki Ageng Wonolelo diganti dengan kue apem yang kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat yang datang ke kediamannya. Wartono menjelaskan, digantinya kue gimbal dengan apem tersebut juga memiliki makna sebuah ampunan.
Dalam ilmu keagamaan, ampunan sendiri memiliki arti rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya ketika dosa yang pernah ia perbuat dimaafkan. Sehingga tidak memberatkan hisab amalan buruknya di akhirat nanti, dan mempermudah jalannya menuju surga.
"Untuk penyebaran apem dilaksanakan di area makam Ki Ageng Wonolelo, dan sebelum penyebaran akan ada pembacaan tahlil," ujar Wartono kepada Radar Jogja, Jumat (25/8/2023).
Lebih merinci tentang Saparan Ki Ageng Wonolelo, Wartono menjelaskan, bahwa tradisi tersebut dilaksanakan untuk memperingati, mengenang, sekaligus mendoakan pendiri dusun Pondok Wonolelo yang tak lain adalah sosok ulama Ki Ageng Wonolelo. Tradisi tersebut digelar bertepatan dengan bulan sapar di minggu kedua.
Tradisi saparan Ki Ageng Wonolelo berlangsung selama 15 malam dan rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Selain kegiatan penyebaran apem, kegiatan tersebut juga diiringi berbagai acara hiburan tradisional maupun modern. Selain itu, ada pula kirab pusaka sebanyak lima buah. Berupa mustaka masjid, kitab suci Al Quran dan tombak milik Ki Ageng Wonolelo.
"Untuk puncak acara saparan Ki Ageng Wonolelo ada kirab pusaka dan penyebaran apem yang dilaksanakan setelah salat Jumat," terang Wartono. (inu/bah)
Editor : Bahana.