SLEMAN - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman berencana menggunakan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) Tamanmartani untuk menampung sampah bervolume besar. Namun sebelum dibuang ke lokasi tersebut sampah harus dipastikan telah dipilah terlebih dahulu.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman Epiphana Kristyani mengatakan, pihaknya memang berencana untuk menggunakan TPSS Tamanmartani untuk menampung sampah-sampah bervolume besar. Seperti yang dihasilkan oleh rumah sakit, perhotelan, dan perkantoran di kabupaten Sleman.
Epiphana menyebut, diprioritaskannya TPSS Tamanmartani untuk rumah sakit, perhotelan hingga perkantoran itu karena sektor-sektor tersebut belum memiliki tempat penampungan sampah. Namun dari dari segi sampah yang dihasilkan cukup besar.
"TPSS Tamanmartani perencanaannya memang untuk menangani sampah yang volumenya banyak. Misal rumah sakit Sardjito itu limbah domestiknya kan banyak, tapi tidak mungkin bikin lubang (jugangan). Hotel-hotel dan perkantoran banyak, yang seperti itu kita pilah dulu baru dibawa ke TPSS Tamanmartani," ujar Epiphana kepada Radar Jogja, Rabu (16/8).
Ia membeberkan, bahwa produksi sampah di kabupaten Sleman dalam seharinya bisa mencapai 300 ton. Kemudian untuk yang dibuang ke TPSS Tamanmartani 50 ton dan sisanya diklaim telah diolah.
Dalam upaya pengolahan sampah tersebut, Epiphana mengaku, sudah mengajak masyarakat untuk mau memilah sampah organik untuk dibuat kompos. Serta mengumpulkan sampah anorganik berupa plastik untuk dijual kepada pengepul.
"Untuk sisa (sampah) yang tidak dibuang ke TPSS kita ajari masyarakat agar mau mengelola sampah," katanya.
Sebelumnya, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jogjakarta Gandar Mahojwala memandang, kalau TPSS Tamanmartani memiliki sistem yang pengelolaanya tidak efektif. Yakni menerapkan sistem landfill yang merupakan sebuah model pembuangan sampah dengan hanya ditumpuk tanpa adanya pengelolaan.
Pengelolaan sampah dengan sistem landfill menurutnya juga merupakan salah satu model pembuangan sampah yang paling tradisional. Bahkan, menurut Gandar, TPSS Tamanmartani justru menggunakan model pengelolaan yang lebih tradisional lagi karena mencampur sampah organik dan non organik.
Dari segi fungsi pun, TPSS Tamanmartani disebutnya juga kurang optimal. Karena hanya mampu melayani 50 ton sampah perhari. Padahal produksi sampah dari kabupaten Sleman sendiri bisa mencapai 738 ton per hari.
"Dilihat dari angka, terlihat bahwa kebijakan TPSS (Tamanmartani) tidak efektif untuk menyelesaikan kondisi darurat sampah. Bahkan di Sleman sendiri," terang Gandar. (inu)