Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hadiri Pembukaan Seni, Rektor UIN Jogja Al Makin Tuturkan Sejarah Tanah Liat Zaman Dewi Venus Hingga Majapahit

Wulan Yanuarwati • Selasa, 15 Agustus 2023 | 19:26 WIB
FUNGSIONAL: Rektor UIN Sunan Kalijaga Jogja, Al Makin saat menghadiri pembukaan pameran tunggal Asep Maulana Hakim di BBY, Senin malam (14/8/2023). (Wulan Yanuarwati/Radar Jogja)
FUNGSIONAL: Rektor UIN Sunan Kalijaga Jogja, Al Makin saat menghadiri pembukaan pameran tunggal Asep Maulana Hakim di BBY, Senin malam (14/8/2023). (Wulan Yanuarwati/Radar Jogja)

 

RADAR JOGJA - Keramik memiliki sejarah yang sangat panjang di dunia. Digunakan sejak puluhan ribu tahun yang lalu sebagai alat fungsional kehidupan sehari-hari bagi manusia. Keramik yang terbuat dari tanah liat juga digunakan sebagai alat ritual, alat berkesenian hingga alat literasi.

Sejarah panjang tanah liat dan keramik dituturkan secara singkat oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogja Al Makin. Orang nomor satu di UIN Jogja ini turut menghadiri pameran tunggal Asep Maulana Hakim yang dihelat 14-22 Agustus 2023 di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY).

"Karya anda (Asep) memakai tanah liat ini mengingatkan kita, bahwa sebetulnya manusia mengenal tanah kemudian dibentuk menjadi alat dan karya seni itu sudah sangat lama. Dan anda bagian dari itu," ujarnya pada pembukaan Pameran bertajuk Kisah dari Desa, Senin malam (14/8/2023).

Baca Juga: Raih Beasiswa Indonesia Bangkit, Mahasiswa FDK UIN Sunan Kalijaga Akan Kuliah di Amerika

Al Makin menuturkan, tanah liat mendominasi alat dan fungsi kehidupan manusia sehari-hari sebelum ditemukannya metal. Tanah liat membantu manusia beraktifitas maupun menjadi media seni dan budaya literasi untuk menuliskan pelbagai kisah.

Diantaranya, Al Makin menyebut kisah Raja keenam dari Dinasti Babilonia pertama bernama Hammurani. Selain itu disebutkan Wiracarita Gilgamesh, sebuah puisi epik dari Mesopotamia kuno.

"Bahkan, era Sumeria dan Babiolonia dan Mesir, profesi menulis di tanah liat menjadi karir tersendiri bagi para sekretaris. Seorang ilmuwan di era kuno itu sekaligus merangkap sebagai pemilih agama atau pendeta," ujarnya.

"Jadi seorang ilmuwan, ahli bintang, ahli pertanian, pembaca bintang Sirus kalau di Mesir dan ahli bulan, itu juga memakai medium tanah liat. Jadi mereka membuat hieroglaf," lanjutnya.

Lebih lanjut, Al Makin mengatakan kira-kira 28 ribu tahun yang lalu berdasarkan data arkeologi ditemukan sebuah karya tanah liat tertua berupa Dewi Venus. Karya tanah liat itu berupa perempuan yang subur sebagai simbol fertilitas atau kesuburan, ditemukan di Cekoslovakia.

"Karya tanah liat tertua berupa dewi Venus, semacam yang dihormati orang2 kuno pada 28 ribu yang tahun lalu, bisa ditemukan sepanjang Eropa bagian Timur dan juga Timur Tengah," ujarnya.

Sementara di Timur Tengah, sekitar 10- 20 ribu tahun yang lalu, Al Makin menyebut tanah liat bisa dibentuk dari replika dari manusia hidup atau alam disekitarnya. Termasuk tradisi kuno lainnya di Jepang, Cina, dan Indonesia juga dipenuhi dengan keramik.

"Teknik pembakaran tanah liat sudah lama, ribuan tahun yang lalu. Dan ini juga ditemukan di kerjaan kuno baik produksi lokal atau luar, misalnya dari era Majapahit atau bahkan era sebelumnya Sriwijaya banyak ditemukan keramik dari benua Asia," paparnya.

Hampir semua peradaban dan tradisi kuno terbukti melibatkan tanah liat dalam kehidupannya. Terutama sebelum penggunaan metal, aluminium, besi, dan baja. Kemudian yang berkembang saat ini silikon sebagai bahan untuk ekspresi atau bahan fungsional lainnya.

"Ini merupakan kebanggaan kita bahwa seni tradisional masih hidup selain dari seni yang lain. Dan kita patut mengapresiasi. Tidak hanya kerajinan sudah saat tua yang ditekuni manusia berbagai peradaban dan kebudayaan, dihidupkan kembali malam ini. Salah satunya oleh Asep," tuturnya.

Meski begitu, tema yang diangkat oleh Asep juga layak diapresiasi. Di dalam karyanya mengandung pesan terhadap lingkungan, kegelisahan dan kekhawatiran. Sekaligus pesan kegembiraan dalam berkarya. (lan)

Editor : Amin Surachmad
#uin jogja #tradisi kuno #majapahit