RADAR JOGJA - Agenda bertajuk Gebyar Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK) berbasis sawit saat ini sedang dilangsungkan di Atrium Ambarrukmo Plaza sejak 28 hingga 30 Juli 2023. Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) selaku penyelenggara acara memproyeksikan agenda ini sebagai langkah untuk mendukung UKMK sawit go internasional.
Direktur Perencanaan dan Pengelolaan Dana BPDPK Kabul Wijayanto menyebut, penting untuk anak-anak muda tahu banyak soal sawit mulai dari proses pengelolaan hingga pendistribusian. Selain itu, dirinya menyebut bahwa BPDPKS terus berkomitmen untuk mendukung para UKMK sawit.
"Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen dan dukungan yang nyata dalam rangka penguatan UKMK yang berbahan sawit untuk bisa mengembangkan bisnisnya lebih maju," jelasnya, Jumat(28/7).
Kabul Mengungkapkan, BPDPKS memang sudah diamanatkan untuk mengembangkan kelapa sawit berkelanjutan lewat beragam program dalam rangka meningkatkan pengetahuan terkait signifikansi perkebunan kelapa sawit yang memiliki nilai strategis dan nilai jual.
"Antara lain ada program peremajaan perkebunan kelapa sawit, penelitian dan pengembangan, promosi, hingga pembangunan SDM dan pengembangan sarana prasarana," lanjutnya.
Pada gelaran ini hadir setidaknya 17 UKMK yang datang dari berbagai daerah mulai dari Gresik bahkan hingga Riau, mereka datang dengan ragam produk olahan turunan dari sawit mulai dari sepatu, baju, sabun, lilin aromaterapi hingga ragam olahan makanan.
Kegiatan ini secara umum dikuti oleh UKMK Mitra BPDPKS yang merupakan UKMK sawit. Mereka mewakili asosiasi petani sawit dari ASPEKPIR, Apkasindo, Apaksindo Perjuangan, SPKS dan Samade. Selain itu, Santriprenur UKMK Sawit, UKM Batik Sawit juga termasuk mitra UKM dari berbagai Perguruan Tinggi yang terlibat di gelaran ini.
Diakui Kabul, sawit memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia dari segi ekspor kelapa sawit dan turunannya yang juga sangat besar. "Setiap tahun kita ekspor ke China, India hingga Pakistan, sektor kelapa sawit juga memberikan sumbangsih lewat tenaga kerja yang signifikan di banyak aspek," tandasnya.
Kepala Perwakilan Kemenkeu DIY Agung Yulianta dalam kesempatan ini menyampaikan rasa terima kasih karena telah memilih Jogjakarata dalam pelaksanaan agenda Gebyar UKMK sawit.
Meskipun, DIY bukanlah produsen sawit tapi secara umum masyarakatnya merupakan bagian dari industri itu sebagai pengguna. Itu mulai dari olahan makanan hingga barang pakai harian yang banyak menggunakan produk turunan kelapa sawit.
"Perlu saya sampaikan di DIY tidak ada kebun penghasil kelapa sawit, meski demikian banyak hal yang bisa dilakukan salah satunya adalah hilirisasi dari kelapa sawit," sebut Agung.
Hilirisasi sawit dalam hal ini dimaknai sebagai sebuah proses yang dilakukan guna mengoptimalkan produk-produk turunan dari kelapa sawit menjadi produk lain yang memiliki nilai jual tinggi.
"Hilirisasi itu penopangnya adalah UKMK dan harusnya sawit bisa dikembangkan lebih lanjut di DIY, harapannya ini bisa menginspirasi para pengusaha muda di DIY untuk mulai melakukan hilirisasi," harapnya.
Agung mengakui, dalam Gebyar UKMK sawit pihaknya turut terlibat untuk melakukan tugas yakni monitoring serta pendampingan dan pembinaan para UKMK karena mereka memegang peranan yang signifikan pada sektor ketenagakerjaan. (iza)
Editor : Amin Surachmad