Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hari Ke-7 Suro, Luuur! Upacara Adat Suran Mbah Demang Banyuraden Digelar

Meitika Candra Lantiva • Rabu, 26 Juli 2023 | 21:47 WIB
BUDAYA: Upacara Adat Suran Mbah Demang di Kalurahan Banyuraden, Gamping, Sleman, Selasa Malam, 25 Juli 2023. (Dok PROKOMPIM SETDA SLEMAN)
BUDAYA: Upacara Adat Suran Mbah Demang di Kalurahan Banyuraden, Gamping, Sleman, Selasa Malam, 25 Juli 2023. (Dok PROKOMPIM SETDA SLEMAN)

 

RADAR JOGJA - Suro bagi masyarakat Jawa dikenal dengan bulan sakral.  Bulan pertama pada kalender almanak Jawa ini dinilai memiliki kemistisan. Lantaran terdapat sejumlah pantangan dan pamali jika dilanggar. Di sisi lain, terdapat sejumlah adat tradisi Jawa yang dilakukan pada bulan suro ini. 


Di Kalurahan, Banyuraden, Gamping, Kabupaten Sleman misalnya. Tepatnya di Padukuhan Modinan, pada malam menjelang 8 Suro atau hari ke tujuh suro, saban tahunnya diperingati upacara adat suran Mbah Demang. Upacara tersebut dilakukan untuk mengenang perjuangan hidup sosok Ki Demang Cokrodikromo.


Berdasarkan cerita masyarakat setempat, Ki Demang merupakan anak seorang Bekel atau pamong desa pada zaman dahulu. Ki Demang kecil bernama Asrah. Asrah di kenal sebagai anak yang nakal. Karena kenakalannya itu kemudian dititipkan ke Demang Dawangan, agar dididik agar perilakunya baik. 


Oleh Demang Dawangan, Asrah dididik dan menjalani laku prihatin. Hingga dewasa, dia menjadi orang yang sakti dan dipercaya dapat menghalau kejahatan. 


Selanjutnya, atas kebajikannya itu dia diangkat menjadi seorang Demang pabrik gula. Seketika itu namanya dikenal sebagai Demang Cokrodikromo. 


Umumnya, upacara adat suran Mbah Demang diawali dengan pembagian Kendi Ijo. Kemudian pembacaan tahlil di makam Mbah Demang. Kemudian di malam harinya, dilangsungkan dengan kirab. Dan dilanjutkan dengan Shalawatan di pendapa setempat serta melakukan prosesi siraman di sumur petilasan Mbah Demang yang berada di dusun setempat.


Masyarakat Banyuraden menilai upacara tradisi Suran Mbah Demang ini dapat membawa perubahan baik dalam kehidupan warga setempat. Dalam aspek keagamaan diharapakan masyarakat semakin sadar akan pentingnya pengalaman nilai-nilai keagamaan. Kemudian juga aspek sosial diharapkan adanya rasa handarbeni, kebersamaan dan saling membantu satu sama lain agar semakin dirasakan.


Upacara tradisi Suran Mbah Demang ini sebagai upaya membangun silaturahmi dan kebersamaan. Serta sebagai sarana komunikasi antar warga. Dan terpenting nguri-uri budaya dan tradisi yang terbentuk dari akulturasi budaya Islam dan Hindu.


Nah, kirab upacara adat Suran Mbah Demang ini, berlangsung pada Selasa 27 Juli 2023. Kirab melewati rute sepanjang Desa Banyuraden. Mulainya dari halaman Kantor Kalurahan Banyuraden menuju Rumah Tabon Ki Demang di Modinan Jalan Godean Km 3. 


Kirab ini dimeriahkan ratusan bregada prajurit,  kelompok kesenian serta ogoh-ogoh yang tergabung dalam 17 kelompok. Juga dihadiri Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo. Pada kesempatan itu, orang nomor satu di Kabupaten Sleman itu turut meramaikan rangkaian prosesi. Di antaranya, menyebar ‘udik-udik’ dan melepas merpati putih.  Lalu mengikuti prosesi kirab pusaka, kitab, dan bendhe menuju Rumah Tabon Ki Demang Cokrodikromo Modinan dengan menaiki andong.


"Upacara ini merupakan peninggalan dan tradisi leluhur. Nilai-nilai luhur yang dimiliki Ki Demang dapat dimaknai untuk diimplementasikan di kehidupan sehari-hari. Hal tersebut bisa dijadikan pegangan dalam hidup yang selaras dan tidak bertentangan dengan keyakinan terhadap Tuhan YME," ungkap Kustini.


Dia berharap nilai-nilai luhur Ki Demang ini bisa diserap masyarakat, sebagai bekal hidup bermasyarakat dan kedepannya dapat dapat menjadi wisata budaya unggulan di Banyuraden. (mel)

Editor : Amin Surachmad
#suro #Budaya #tradisi