Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Buntil Makanan Tradisonal Jawa Kembali Populer, Jadi Menu Andalan hingga Dikalengkan

Meitika Candra Lantiva • Minggu, 23 Juli 2023 | 20:40 WIB
KHAS: Seorang menjajakan buntil buatannya pada acara Festival Van Der Wijck di Padukuhan Tangisan, Banyurejo, Sleman, beberapa waktu lalu. (MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
KHAS: Seorang menjajakan buntil buatannya pada acara Festival Van Der Wijck di Padukuhan Tangisan, Banyurejo, Sleman, beberapa waktu lalu. (MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)

KHAS: Seorang warga Banyurejo, Tempel, Sleman menjajakan buntil buatannya pada acara Festival Van Der Wijck di Padukuhan Tangisan, Banyurejo, Sleman, beberapa waktu lalu. (MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA) 

 

Buntil Makanan Tradisonal Jawa Kembali Populer, Jadi Menu Andalan hingga Dikalengkan


FOTO: KHAS: Seorang warga Banyurejo, Tempel, Sleman menjajakan buntil buatannya pada acara Festival Van Der Wijck di Padukuhan Tangisan, Banyurejo, Sleman, beberapa waktu lalu.


RADAR JOGJA - Bagi pecinta kuliner, sesekali perlu memanjakan lidah dengan menjajal menu  Khas Jawa, berupa buntil. Menu yang menyajikan cita rasa gurih dengan campuran parutan kelapa dan teri ini masih banyak dijumpai di kawasan Barat Daya Sleman, tepatnya di Kalurahan Banyurejo, Sleman. Unik, campuran parutan kelapa muda dan teri yang sudah dibumbui, kemudian dibungkus dengan daun talas. Keunikan inilah yang membuat penasaran untuk segera mencicipinya. 


"Kami yang tinggal di wilayah perbatasan Sleman sudah terbiasa memasak Buntil dan menjajakannya," celetuk Susi Harini, 49, salah satu penjual Buntil di Padukuhan Kemusuk, Banyurejo, Tempel, Sleman, Jumat (20/7). 


Ada beragam jenis buntil. Selain daun talas, ada yang mengolahnya menggunakan daun singkong dan pepaya. Namun populernya, buntil dibuat dari daun talas atau disebut buntil lumbu. 


Buntil makanan tradisional khas Jawa yang masing-masing daerah punya. Hanya saja di daerah pedesaan, makanan ini masih menjadi menu andalan sebagian orang. Tak dipungkiri, cara memasaknya pun lama. Membutuhkan waktu sekitar empat jam.

KHAS: Seorang menjajakan buntil buatannya pada acara Festival Van Der Wijck di Padukuhan Tangisan, Banyurejo, Sleman, beberapa waktu lalu. (MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
KHAS: Seorang menjajakan buntil buatannya pada acara Festival Van Der Wijck di Padukuhan Tangisan, Banyurejo, Sleman, beberapa waktu lalu. (MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)


Cara memasaknya pun tak sembarangan. Rini menyebutkan ada trik khusus. Agar daun talas tak gatal di mulut saat disantap. Di lain sisi ada trik mempertahankan warna daun talas agar tetap segar saat dimasak. 


"Agar tak gatal, proses memasaknya harus benar. Mulai dari pencucian hingga lamanya perebusan," jelasnya. Agar warnanya tetap hijau segar, saat pembungkusan, kondisi daun tidak boleh terlalu getas dan layu. 


"Layunya sedang. Kalau saya, daun didiamkan semalam seblum digunakan untuk membungkus. Jadi daun tak pecah dan dapat digunakan untuk membungkus dengan rapi," ungkapnya. 


Agar bungkusan daun tak rusak, buntil diikat dengan daun pisang atau bisa juga menggunakan bilahan bambu tipis. Tujuannya diikat, agar isi buntil padat. 


Tahap berikutnya, buntil dikukus hingga benar-benar masak. Setelahnya baru direbus dengan kuahnya atau arehnya. Dengan bumbu yang diracik khusus, kemudian ditaburi cabai rawit utuh. 


Bagi para pelancong dan pecinta kuliner yang ingin menjajal buntil dapat di jumpai di Kuliner Jadoel Lembah Si Cangkring di Banyurejo, Tempel, Sleman pada saat weekend, Sabtu dan Minggu.  


Namun, bagi yang tak sabar menyantap dimanapun dan kapanpun, Rini mengaku telah mengembangkan Buntil dalam bentuk kalenganyang diberi nama buntil lumbu buatan Anugerah Anak Desa Sleman (AADS) dengan berbagai rasa, mulai dari original hingga ekstra pedas. Spesialnya, buntil olahannya tanpa pengawet dan dapat bertahan setahun lamanya.


Harganya bervariatif. Buntil segar yang dimakan di warung kediamannya perporsinya mulai Rp 13 ribu. Untuk buntil per kaleng isi 250 gram dibanderol Rp 40 ribu. 


"Buntil kalengan pemesanannya terus bertambah. Setiap hari pemesanan buntil segar bisa sampai 75 porsi ditambah buntil kalengan yang mulai ramai," ungkap Rini. 


Rini mengimbuhkan meskipun izin produknya baru di proses, namun pemesanan buntil secara getok tular kian ramai. Menurutnya, tak perlu risau jika berkunjung ke Jogjakarta, khususnya di Banyurejo, Tempel, Sleman. Buntil dapat menjadi oleh-oleh nostalgia, menggugah kembali nikmatnya masakan tempo dulu. 


Pecinta kuliner domisili Sleman Aliya Kusuma Putri mengaku beberapa kali menyantap buntil. Menurutnya, Buntil paling cocok dinikmati bersama nasi hangat maupun nasi lontong. Lebih mantap lagi nyeruput teh anget dan ditambah makan bacem tempe ataupun tempe garit.


"Paling mantap, buntil disantap selagi hangat, nasinya pun hangat. Taburan cabai rawitnya jadi ceplusan pengganti sambal. Ah nikmat," ujar Alya. (mel)

Editor : Amin Surachmad
#buntil #Kuliner #daun pisang