“Sudah sepantasnya peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi kita semua," tutur salah satu pengagas acara Wawan H Prabowo kemarin (30/5).
Jumlah karya yang ditampilkan, kata Wawan, disesuaikan dengan kekuatan gempa yang melanda saat itu. Berisikan potret peristiwa saat gempa, masa recovery, hingga mitigasi bencana.
Sementara itu, Ketua PFI Jogjakarta Oka Hamied berharap, di masa depan gempa tak boleh lagi menjadi bencana mematikan. Oleh karena itu pengetahuan tentang gempa atau mitigasi kebencanaan perlu ditingkatkan kembali. Terlebih di DIJ menjadi daerah yang sangat rawan akan bencana.
“Melalui pameran foto jurnalistik ini bisa mengajak masyarakat untuk menjaga kesadaran tentang risiko bencana gempa, merawat memori kolektif akan bencana gempa, dan juga melihat ketangguhan masyarakat saat menghadapi bencana gempa,” harapnya.
Pengunjung pameran Tika Wulansari mengaku, memiliki trauma tersendiri saat mengingat gempa yang menimpanya semasa kecil. "Trauma ini masih ada sampai sekarang," tutur perempuan asal Sleman.
"Pameran ini mengajak pengunjung untuk merenungkan kekuatan manusia dalam menghadapi bencana dan mengatasi kesulitan," tandasnya. (cr2/eno) Editor : Editor Content