Dalam atmosphere kebebasan berekspresi, seni Jawa diyakini mampu menjinakkan tradisi mekanistik barat yang terkesan angkuh, pongah, dan penuh dengan impian utopis kekuasaan. “Seni Jawa memberikan tafsir nilai yang berbeda, memberi ajang amba terhadap pengetahuan tentang hidup sepanjang zaman,” sebut Guru Besar Etnolinguistik Bidang Onomastik FIB UNS Prof Sahid Teguh Widodo dalam rapat terbuka Senat Dies Natalis ke-60 Fakultas Bahasa Seni dan Budaya (FBSB) UNY kemarin (2/5).
Dia memaparkan, bahwa perubahan pandangan dunia telah merombak kesadaran, keyakinan, norma, serta nilai dalam seni dan kebudayaan. Menurutnya seni harus mampu memaknai dirinya di tengah relasi sosial yang telah berubah. Dan seni masa depan harus mampu mengejawantahkan ‘patos semesta’ yang telah berubah. “Sungguh, masa depan seni Jawa terletak di tangan kreatif yang mampu menyadari, mengadaptasi, dan merespons secara inovatif” katanya.
Sahid juga menyampaikan dinamika manusia dalam perkembangan budaya digital. Diambil fokus tertentu jika hendak membicarakan tentang manusia Jawa. "Daya gerak dinamis manusia Jawa dapat ditilik dari kesadarannya, pengalaman dan memorinya, pengetahuan, dan kebijaksanaannya dalam wujud piramidal," ungkapnya.
Sementara itu, Dekan FBSB UNY Sri Harti Widyastuti berharap, dalam usianya ke-60 tahun FBSB UNY dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam bidang tugasnya. Yakni pendidikan dan pengembangan keilmuan bahasa, dan seni. Serta akan selalu tumbuh dan berkembang dalam melaksanakan Tri Dharma perguruan tinggi. (cr2/eno)
Editor : Editor Content