Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Barat Dardiri sebut lonjakan wisatawan mulai terlihat pada hari kedua libur Lebaran 2023. Dia menduga para wisatawan atau pemudik mulai memilih untuk berlibur setelah bersilaturahmi ke kediaman keluarga saat perayaan Idul Fitri 1444 H.
“Kemarin dalam pantauan saya kurang lebih 6.000 sampai 7.000. Hari ini sampai jam 12.20 WIB kunjungan ambil saja 10 ribu. Ini hanya minat khusus yang jip wisata saja,” jelasnya ditemui di wahana rute jip wisata Kali Kuning, Senin (24/4).
Dardiri memastikan seluruh armada melayani para wisatawan. Total ada 1.050 yang terbagi dalam 29 komunitas. Setiap komunitas rata-rata mulai beroperasi menjelang Matahari terbit.
Dia meyakini bahwa jumlah wisatawan lebih dari 10 ribu. Ini karena ada beberapa komunitas yang melayani paket Sunrise. Berupa perjalanaan khusus yang dimulai sejak pagi buta. Tujuannya untuk melihat Matahari terbit dari lereng Gunung Merapi.
“Armada total keseluruhan karena ada tambahan sekitar 200 armada saat ini operasional 1.050. Satu armada ambil rata-rata dari 29 komunitas bisa 2 kali terlepas dari paket sunrise,” katanya.
Berdasarkan data, mayoritas wisatawan berasal dari Jawa Barat dan DKI Jakarta. Disusul kemudian wisatawan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Wisatawan selama libur Lebaran 2023, lanjutnya, didominasi oleh keluarga besar.
Dardiri menuturkan tidak sedikit wisatawan yang menginap di sekitar kawasan Kaliurang. Tujuannya agar bisa menikmati beragam paket wisata. Selain itu juga kecenderungan menghabiskan waktu liburan bersama keluarga.
“Wisatawan kebanyakan 65 persen dari Jawa Barat, Jakarta dan sekitarnya lalu Jawa Tengah, Jawa Timur. Kebanyakan keluarga, liburan dari trah mana, bareng-bareng menikmati sejuknya di kaki Merapi akhirnya pada lava tour,” ujarnya.
Guna memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan, pihaknya berkoordinasi dengan Satlinmas, BPBD dan SAR. Kaitaannya adalah reaksi cepat apabila terjadi kecelakaan. Selain itu juga berkoordinasi atas aktivitas erupsi Gunung Merapi.
Setiap pengemudi, lanjutnya, dibekali dengan radio genggam atau handy talkie (HT). Alat ini guna memudahkan komunikasi. Dengan pertimbangan tidak terkendala sinyal layaknya penggunaan telepon genggam.
“Setiap driver diwajibkan pegang HT, masing-masing basecamp punya operator kalau ada sesuatu hal misal Merapi bisa langsung komunikasi. Juga dibekali mitigasi kebencanaan Merapi,” katanya.
Untuk tarif, Dardiri memastikan tak ada kenaikan. Mini short dikenai tarif Rp 350 ribu, lalu kisaran Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu untuk short dan medium trip. Sementara untukl long trip dikenai tarif Rp 900 ribu.
“Trip paling murah Rp 350 ribu termasuk masuk destinasi. Paling mahal Rp 900 ribu untuk long trip tapi tidak buka karena berdekatan dengan (Gunung) Merapi. Semua trip melalui (wahana air) Kali Kuning baik Mini Short sampai Long Trip,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News