Ketua panitia kegiatan Reno Candra Sangaji mengungkapkan, event ini sudah dilaksanakan untuk ketiga kalinya. Para peserta berlomba memperebutkan piala bupati dan sejumlah uang pembinaan mencapai Rp 20 juta. Syaratnya, peserta harus menempuh jarak 110 kilometer sesuai rute yang ditentukan.
Mulai dari Rumah Dinas (Rumdin) Bupati Sleman kemudian ke arah timur melewati Kalasan, dan menanjak menuju Cangkringan sampai ke Goa Jepang. Selanjutnya, dari Cangkringan berlanjut ke Pakem. Lalu turun melewati wilayah Turi. "Dari Turi ke selatan melewati Minggir, ke timur, dan kembali lagi ke Rumdin," ungkap Reno di sela kegiatan.
Tour De Sleman dimulai pukul 06.00 dan dengan batas waktu sekitar pukul 13.00. Kegiatan ini dibagi tiga kategori peserta. Yakni kategori pria dengan usia lebih dari 40 tahun, pria berusia kurang dari 40 tahun, dan kategori wanita. Dengan tajuk Sleman Bangkit, diharapkan pascapandemi Covid-19, Sleman bangkit dari segala sisi. Perekonomian warga terangkat dan berdampak luas bagi masyarakat.
"Dengan dukungan pemerintah, harapannya event ini dapat terus terlaksana, untuk mengangkat pariwisata dan olahraga di Sleman. Sekaligus menciptakan bibit atlet pesepeda di Sleman," bebernya.
Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo pun turut membuka kegiatan tersebut. Menurutnya, dengan bersepeda selain menyehatkan badan juga mengajak peserta memanjakan mata. Menikmati indahnya panorama Sleman secara lebih dekat.
Dia berharap ke depan pesertanya semakin meningkat. Dia juga berpesan kepada peserta agar turut mempromosikan potensi wisata di Sleman.
Menurut Purwantoro, peserta Tour De Sleman, kegiatan ini cukup menantang. Karena lintasan tak hanya datar, melainkan juga menanjak. Sehingga harus pandai mengatur pernafasan dan kecepatan. "Yang paling menantang itu dari Kalasan ke Cangkringan karena sepanjang jalan menanjak. Tercepat nomor dua, dengan waktu tempuh empat jam," ucapnya. (mel/eno) Editor : Editor Content