Rektor UIN Sunan Kalijaga Al Makin menjelaskan proses pengajuan penerimaan Doctor Honoris Causa kepada ketiganya berjalan selama dua tahun. Rencananya, penganugerahan akan digelar di UIN Sunan Kalijaga, Senin (13/2).
Menurut Al Makin masing-masing tokoh memiliki perang penting dalam mewujudkan perdamaian beragama. Misalnya Kardinal Miguel Angel Ayuso Guixot yang ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1980 dan menjadi misionaris di Mesir dan Sudan hingga tahun 2002. Pada Maret 2016 dia ditahbiskan menjadi uskup oleh Paus Fransiskus. Tiga tahun berselang dia diangkat menjadi Kardinal oleh Paus Fransiskus.
"Kontribusinya dalam dialog antar agama hadir ketika dia menjabat sebagai wakil utama Vatikam dalam memulihkan dialog dengam Imam Besar Ahmed el-Tayeb dari Masjid Al-Azhar Kairo yang sempat mandeg pada tahun 2011," jelas Al Makin ditemui di UIN Sunan Kalijaga, Jumat (10/2).
Tokoh lainnya yakni KH Yahya Cholik Staquf atau Gus Yahya. Al Makin menjelaskan pada 2014 Gus Yahya tercatat menjadi salah satu inisiator institut keagamaan di California. Institut tersebut diberi nama Bayt Ar-Rahmah Li AdDa'wa Al-Islamiyah rahmatan Li Al-alamin.
Institut ini mengkaji agama islam untuk perdamaian dan rahmat alam. Lalu pada 2015 dia dibaiat menjadi Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBBU).
"Kemudian pada tahun 2022 melalui Muktamar ke-43 NU, dia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU," kata Al Makin.
Tokoh selanjutnya adalah Sudibyo Markus. Al Makin menjelaskan Sudibyo pernah menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah periode 2005 hingga 2010. Sementara pada 2010 hingga 2020 dia menjabat sebagai Wakil Hubungan Luar Negeri PP Muhammadiyah.
UIN Sunan Kalijaga, lanjutnya, menilai Sudibyo Markus sebagai sosok dengan kemanusiaan tinggi. Tak hanya untuk Indonesia tapi juga antar bangsa.
“Apa yang dilakukan oleh Sudibyo Markus dalam membangun wajah agama yang ramah dan menghormati keberadaan agama-agama lain sangat selaras dengan Maqasid Syari'ah yang diyakini oleh Muhammadiyah," ujarnya.
Al Makin menyebut kontribusi dan teladan nyata yang telah dilakukan oleh ketiga tokoh tersebut mewakili kelompok umat beragama. Ini merupakan implementasi dari Dokumen Abu Dhabi dan prinsip moderasi beragama.
Didalamnya menyatakan bahwa perdamaian dunia dapat dicapai melalui pemahaman. Juga pengakuan yang damai antara perbedaan antar agama dan budaya.
"UIN Sunan Kalijaga berharap melalui penganugerahan gelar kehormatan honoris causa inu dapat menegaskan posisi peran Indonesia di mata dunia. Memberikan inspirasi dan dorongan bagi generasi saat ini untuk terus berjuang dalam membangun solidaritas dan kemanusiaan antar bangsa dan agama," harap Al Makin. (isa/dwi) Editor : Editor News