RADAR JOGJA - Seluruh pedagang di 42 pasar tradisional di Sleman didorong untuk digitalisasi metode pembayaran menggunakan QRIS atau non-tunai. Digitalisasi pasar, digadang-gadang mempermudah transaksi di masyarakat.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Mae Rusmi Suryaningsih mengatakan, 42 pasar tersebut berada di bawah binaan disperindag. Rencananya, percepatan digitalisasi akan dilakukan tahun ini.
Mae merinci, saat ini baru ada delapan pasar tradisional binaan dinasnya yang sudah menggunakan pembayaran non-tunai. “Di Kabupaten Sleman ada sekitar 80 pasar,” bebernya saat kunjungan ke Pasar Potrojayan Prambanan bersama paguyuban pedagang pasar dan pedagang kaki lima (PKL) se-Kabupaten Sleman kemarin (17/1).
Menurut Mae, tujuan digitalisasi pembayaran adalah untuk menarik kalangan milenial. Sehingga diharapkan, kunjungan anak muda yang berbelanja ke pasar tradisional semakin meningkat. "Harapannya kaum muda yang males bawa duit itu mau ke pasar tradisional,” ujarnya.
Sementara itu, pedagang dari Pasar Sambilegi Arum yang turutk ikut dalam kunjungan menyebut, penerapan digitalisasi di pasar sangat penting. “Kunjungan ini menjadi pelajaran bagi kami pedagang se-Sleman untuk menerapkan digitalisasi di pasar kami, Pasar Sambilegi,” tandasnya. (lan/eno) Editor : Editor Content