"Dulu orang mungkin bisa menghabiskan waktu dengan menikmati hotel bintang lima. Tapi, sekarang mending hotelnya bintang tiga saja, tapi bisa jalan ke mana-mana, selama di sini," ujarnya usai penutupan pelatihan dan sertifikasi hospitality yang diperuntukkan bagi SDM di desa wisata penyangga Zona Otorita Borobudur di Hotel Keisha Sleman, kemarin (28/11).
Oleh sebab itu, setiap daerah harus bisa mempersiapkan dan menangkap tren baru ini. Hal itu juga yang dilakukan Badan Otorita Borobudur yang mengemban tugas mengembangkan kawasan pariwisata dengan lahan seluas 309 hektar. Kawasan itu merupakan meliputi wilayah DIJ dan Jawa Tengah, digadang-gadang bakal menjadi resort dengan kapasitas ribuan kamar dan menyerap ribuan pekerja.
"Tren pariwisata sekarang, mereka mengurangi biaya akomodasi. Mereka ingin lebih banyak experience. Itu kan sesuatu yang berbeda sehingga daerah harus mempersiapkan," jelasnya.
Sementara itu, sebanyak 20 peserta pelatihan dan sertifikasi hospitality yang digelar mulai 22-26 November 2022 dinyatakan kompeten. Selanjutnya, para peserta yang sudah tersertifikasi diperbolehkan bekerja di tempat lain. Sembari menunggu kawasan yang rencananya akan dimulai tahun 2023.
"Satu tahun ke depan mulai dibangun kalau bisa tenaga kerja dari lokal. Kalau mau kerja di chain hotel dulu juga gak masalah lalu besok kembali ke lokasi kami,'' jelasnya.
Direktur Lembaga Sertififikasi Profesi Pariwisata dan Spa Indonesia (LSP PARSI), Lastiani Warih Wulandari mengatakan pentingnya sertifikasi profesi. Kualitas SDM yang bagus akan meningkatkan kualitas pelayanan dan kepercayaan wisatawan.
Sertifikasi kompetensi ini berlaku selama tiga tahun. Setelah itu, diharapkan para peserta melakukan sertifikasi lanjutan dan bisa upgrade skill.
"Endingnya kita dapatkan sertifikasi, tidak hanya sekedar kertas tapi dikuatkan dengan pengetahuan dan skill yang terus digali," ujarnya. (lan/kus)
Editor : Editor Content