Warga Sleman yang juga merupakan koreografer di Komunitas Nalitari ini mengatakan, di fase awal kehidupan muridnya, mereka memiliki kekecewaan. Kerap membandingkan diri dengan teman-temannya. "Saat masih kecil kok tidak sama, 'aku tidak bisa mendengar tapi kok teman-temanku bisa'. Dari kekecewaan di mana dia merasa kesepian. Tapi berjalannya waktu dan lainnya ternyata dia bisa kok berkembang dan menunjukkan prestasinya," beber Nurul kemarin (1/11).
Setiap gerakan dalam tarian yang dibuat lulusan seni tari UNY ini, memiliki arti dan isyarat tertentu. Dia pun mulai menarikan Tari Sunyi secara gemulai bersama siswinya. Mereka menjiwai setiap gerakan dan masuk ke dalamnya. "Isyarat yang terakhir itu 'aku tuli tapi aku baik-baik saja, aku masih bisa berkarya dan bisa terbang meraih mimpi. Kamu melihatku mengenggam dunia untukmu'. Itu isyarat terakhir kami visualkan di tarian," jelasnya.
Nurul yang sudah masuk ke komunitas Nalitari sejak 2013 itu, meminta izin kepada komunitas agar hasil karyanya dapat ditampilkan bersama muridnya pada acara tertentu. Sebab sebelumnya, tarian yang diciptakan hanya diperuntukkan bagi komunitas.
Menurutnya, butuh penelitian khusus. Apakah seni tari berpengaruh terhadap kondisi psikis anak didiknya di SLB. Namun seturut cerita dari para orang tua, anak mereka menunjukkan kemajuan. "Jadi mungkin ceritanya bahwa anaknya lebih gembira, lebih bisa bersosialisasi dan kalau ketemu orang baru bisa langsung bersosialisasi dan berkomunikasi sama teman-teman. Dibandingkan belum masuk ke komunitas kami. Tapi memang butuh penelitian ya," rincinya.
Meski begitu, Nurul tidak memaksa setiap orang tua agar anaknya masuk ke komunitas. "Beberapa ikut komunitas, yang orang tua mendukung pasti saya ikutkan. Tapi kalau tidak menghendaki dan mendukung, ya sebatas di sekolah," ujarnya. "Karena kami menganggap semua orang itu bisa menari, anak-anak semua itu bisa berkarya melalui tarian," sambungnya. (lan/eno) Editor : Editor Content