Mahasiswa KKN UNY Annur Galeh Pamungkas menuturkan, bermain menggunakan permainan tradisional dapat mengasah otak. Selain itu, anak-anak bisa bersosialisasi dengan orang di sekitarnya. Hal ini sangat membantu melatih mental, kreativitas, dan komunikasi.
Adapun permainan tradisional yang dikenalkan yaitu, egrang batok, bakiak, dan lompat tali. Karena saat ini, ketiga permainan itu dinilai kurang populer. "Masa sekarang ini, game-nya pakai gadget," ungkapnya mewakili tim kemarin (5/9).
Namun anak-anak saat ini mudah kecanduan gadget. Hingga melupakan tanggung jawab lain dan mengurangi konsentrasi belajar. Bahkan tak jarang, gadget menjadikan anak antisosial. Padahal, masa tumbuh kembang anak, membutuhkan sosialisasi dengan sesamanya.
Galeh pun berharap, anak-anak ke depan akan melestarikan permainan tradisional yang ada. Sebab permainan tradisional bagian dari budaya.
Seorang anak bernama Elgan pun mengaku senang bisa mengenal permainan tradisional itu. Sehingga dia tidak lagi bermain sendiri di rumah. “Biasanya hanya bermain game di rumah sampai bosan. Sekarang banyak temannya," ucapnya.
Dosen pembimbing lapangan Sigit Nugroho menyebut, pengenalan permainan tradisional seperti itu akan memudahkan anak-anak menerima pendidikan karakter dan nilai-nilai luhur. “Selain itu, anak-anak mendapat kebebasan dalam berkreasi dan berekspresi” ujarnya. (mel/eno) Editor : Editor Content