Direktur BUMDes Amarta Agus Setyanta menyebut, pendapatan mengolah sampah di tahun pertama hanya sekitar Rp 40 juta. Kemudian naik hingga Rp 246 juta pada 2019. Pemasukan itu, berasal dari penjualan sampah yang telah terpilah.
Dari sampah organik, dipilah menjadi sampah yang masih bisa untuk makanan ternak, magot, maupun dijadikan kompos. Sampah layak ternak itu, dibeli oleh warga yang membutuhkan. Sedangkan kompos, dibeli oleh UPT Pertamanan Kabupaten Sleman.
Sementara sampah anorganik, dipilah sesuai jenisnya. Kemudian dijual kepada pengepul. "Pendapatan kami ya dari iuran warga tadi, penjualan sampah organik layak ternak, penjualan magot, dari penjualan kompos, dan penjualan rosok," rincinya kemarin (21/8).
"Residu sampah setelah kami pilah itu 50 persen kami buang ke TPA. Karena kami tidak mempunyai teknologi mengolah itu," lanjutnya.
Sampah yang masuk, juga akan dikenai tarif. Dihitung per kilometer kubik sampah. Harga yang ditawarkan, juga berbeda antara masyarakat dan perusahaan. "Artinya konsep kita bagaimana sampah mendatangkan devisa desa," ujarnya.
Keberhasilan BUMDes Amarta dalam mengolah sampah, menjadi percontohan daerah lain.
Pemda maupun pemdes dari Aceh hingga Papua, kerap datang untuk belajar pengelolaan sampah. Hal ini lantas ditangkap dengan konsep wisata edukasi sampah. Selain diajari cara mengolah sampah, mereka juga diajak berwisata keliling desa. (lan/eno) Editor : Editor Content