Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Ekraf Dinas Pariwisata Sleman Aris Herbandang mengatakan, pembebasan retribusi hanya di kawasan Kaliurang saja. Sebab, objek wisata lain dikelola swasta. "Kenapa tidak semua, ya kewenangan kami cuma dua," ujarnya kemarin (14/8).
Bandang mengaku baru kali ini, Pemkab Sleman membebaskan retribusi masuk Kaliurang. Padahal rata-rata penerimaan retribusi di kawasan tersebut kisaran Rp 25 juta per hari. "Diharapkan dibebaskan menjadikan animo masyarakat berkunjung makin banyak dan belanja peredaran uang makin banyak. Artinya retribusi mampet tapi pendapatan masyarakat meningkat," bebernya.
Tidak hanya memberikan tiket masuk gratis, beberapa skema lain juga telah disiapkan untuk menarik wisatawan. Di antaranya dengan menggelar event model street performance yang melibatkan masyarakat. Selain itu juga akan ada upacara bendera di Nawang Jagad, Kaliurang Barat.
Rencananya, upacara bendera akan menggunakan baju adat. Dengan Plt Dinas Pariwisata Sleman selaku inspektur upacara bakal mengenakan atribut baju adat Nusa Tenggara Timur (NTT). Di akhir acara, peserta dengan konstum terbaik, akan mendapatkan hadiah dari swadaya bersama. "Animo masyarakat sangat tinggi karena tidak biasanya masyarakat umum bisa mengikuti upacara," sebutnya.
Pejabat Fungsional Adhyatama Kepariwisataan dan Ekraf Dinas Pariwisata Sleman Rini Wahyu Hestari mengatakan, setelah upacara bendera, akan dilanjutkan acara flash mop tari Badui. Kolaborasi antara Sanggar Tari Kerincing Manis dari Jaban, Tridadi dan Sanggar Sekar Jayashree dari Balangan Karangpakis Wukirsari, Cangkringan. (lan/eno) Editor : Editor Content