Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Turunkan Angka Stunting, Pemkab Sleman Luncurkan Program Dahsat

Editor News • Rabu, 10 Agustus 2022 | 01:46 WIB
APRESIASI : Kepala BKKBN Hasto Wardoyo bersama Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo meninjau hasil program Dahsat dari Kalurahan Condongcatur, Sleman, Selasa (9/8). (ANNISSA KARIN/RADAR JOGJA)
APRESIASI : Kepala BKKBN Hasto Wardoyo bersama Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo meninjau hasil program Dahsat dari Kalurahan Condongcatur, Sleman, Selasa (9/8). (ANNISSA KARIN/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Guna mengurangi angka stunting, Pemerintah Kabupaten Sleman meluncurkan program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dahsat) di Pendopo Parasamya, Selasa (9/8). Fokusnya adalah meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menuturkan pihaknya akan melibatkan masyarakat. Harapannya masyarakat bisa teredukasi mengenai makanan yang sehat bagi anak-anak. Fokusnya menggunakan bahan baku pangan dengan kearifan lokal.

"Program ini serentak ada di 17 kapanewon, kemudian kita lombakan. Nanti harapannya anak-anak bisa tercukupi gizinya, berkualitas, dan bisa menurunkan angka stunting," jelasnya saat ditemui di Pendopo Parasamya, Selasa (9/8).

Selain meluncurkan program Dahsat pihaknya juga memberikan fasilitas berupa sepeda motor. Kendaraan ini digunakan oleh para penyuluh di masing-masing kapanewon. Tujuannya agar bisa turun ke lapangan langsung ke tingkat keluarga.

Tak hanya itu, Kustini juga bekerjasama dengan RSUP dr. Sardjito. Wujudnya dalam pengadaan alat Laparoskopi. Alat ini digunakan untuk program KB steril.

"Kader-kader kami harapkan bisa turun ke bawah, melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Lebih-lebih kepada masyarakat kurang mampu. Kami terus berupaya untuk meminimalisir angka stunting di Kabupaten Sleman," katanya.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menjelaskan pihaknya menggelontorkan dana hampir Rp. 10 miliar kepada Kabupaten Sleman. Dana ini hanya untuk upaya penanganan stunting.

Rinciannya, sebesar Rp. 8,8 miliar untuk biaya operasional pemberian pelayanan kepada masyarakat. Sebanyak Rp. 1,9 miliar untuk pemenuhan fasilitas fisik. Meliputi pembelian sepeda motor dan pengadaan alat laparoskopi.

"Bagus, di Sleman sudah dibelanjakan. Itu yang penting. Yang Rp. 1,9 miliar sudah dibelanjakan hampir 100 persen. Kalau yang Rp. 8,8 miliar sampai sekarang mendekati 40-an persen," ujarnya saat ditemui di Pendopo Parasamya, Selasa (9/8).

Tingkat stunting di Kabupaten Sleman, lanjutnya, berada pada angka 16 persen. Angka ini terhitung rendah dan berada di bawah standar nasional yakni 20 persen. Saat ini Jogjakarta menduduki peringkat tiga nasional angka stunting terendah.

"Di setiap kecamatan kita harapkan untuk bisa ada rembuk stunting dan mini loka karya stunting. Sehingga koordinator kecamatan itu butuhlah untuk sarana komunikasi, integrasi antar lembaga di kecamatan," harapnya.

Hasto menjabarkan sebanyak 20 persen angka stunting di Sleman disebabkan oleh kelahiran sebelum waktunya. Ada pula pertumbuhan bayi di dalam perut ibu yang tidak normal atau lahir dengan panjang kurang dari 48 centimeter. Kasus ini terjadi sekitar 22 persen kelahiran.

Angka ini muncul karena angka anemia ibu hamil mencapai 37 persen. Selain itu adalah sanitasi yang buruk. Alhasil kualitas kehidupan di lingkungan tak sehat.

"Tapi, Sleman ini sanitasinya sudah bagus. 98 persen PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat) dan perilaku buang air besarnya sudah baik. Saya kira Sleman, jarak melahirkan yang harus diatur," ujarnya. (isa/dwi) Editor : Editor News
#Kustini Sri Purnomo #BKKBN Hasto Wardoyo #Dapur Sehat Atasi Stunting #stunting sleman #Stunting bkkbn #Sleman Dahsat