"Untuk mengganjal kebutuhan, langkah dari pemerintah agar masyarakat bisa melaksanakan ibadah dengan baik, dengan mendatangkan ternak dari luar daerah. Disisi lain, atas petunjuk bupati dan wakil bupati, kami tidak menutup pasar hewan tetapi kami awasi ketat," ungkap Plt Kepala DP3 Sleman Suparmana saat ditemui, Minggu (5/6).
Pram, sapaannya menyebutkan, jika melihat kebutuhan kurban tahun lalu, angkanya mencapai 8.174 ekor sapi. Kendati begitu, tiap tahunnya stok hewan kurban selalu didatangkan dari luar daerah. Misalnya dari Purworejo, sebagian sapi yang didatangkan dari Bali maupun Jawa Timur. Sebab, kalau hanya mengandalkan jumlah ternak lokal, stok hewan kurban tidak terpenuhi.
"Pada awal-awal ditemukan kasus PMK harga ternak sempat anjlok karena buru-buru dijual. Tetapi saat ini harganya mulai melonjak karena stoknya kurang," sebut mantan panewu Cangkringan ini. Hal ini dapat dilihat dari pergerakan pasar hewan Ambarketawang, Gamping, Sleman. Meski tidak ditutup, pergerakan transaksi dan ketersediaan ternak turun 30-40 persen semenjak kasus PMK meluas.
Menurut Pram, bila dilihat dari suspeknya PMK terhadap ternak semakin meluas. Kendati begitu belum dilakukan uji klinis, mengingat antrian panjang di Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates. Kendati begitu, komunikasi informasi edukasi (KIE) terus digalakan kepada kelompok ternak. Bilamana dijumpai indikasi klinis sepeeti air liur berlebihan, koreng-koreng pada badan, kuku maupun mulut ternak agar segera diisolasikan dan diberikan vitamin.
"Jangan dijualbelikan, tunggu isolasi dulu. Kalau sudah sembuh baru bisa dijualbelikan," tutur pejabat yang merangkap kepala dinas pariwisata ini. Edukasi pecegahan dilakukan dengan membersihkan kandang dan pakan ternak. Menyemprot disenfektan pada kandang. (mel/bah) Editor : Editor Content