Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Nikah di Kebun Salak dan di Tengah Sungai

Editor Content • Jumat, 20 Mei 2022 | 14:48 WIB
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
RADAR JOGJA - Tujuh pasangan mengikuti nikah unik di kebun salak dan di tengah sungai dengan mengenakan baju adat Nusantara kemarin (19/5). Pernikahan dengan mahar buah salak 1 kg yang diadakan Forum Ta'aruf Indonesia (Fortais) itu digelar di Kemuning Kopi dan Senja Pulowatu, Pakem, Sleman.

Ketua Golek Garwo Fortais Indonesia dan Nikah Bareng Nasional Ryan Budi Nuryanto mengatakan, nikah di alam terbuka ini digelar bersamaan momentum Hari Kebangkitan Nasional, dan kebangkitan dari pandemi Covid-19 menuju endemi. Juga sekaligus memperingati HUT ke-106 Kabupaten Sleman.

Menurut Ryan, nikah bareng di tengah kebun salak ini yang kali pertama kali diadakan di Indonesia. Digelar secara gratis, pasangan pengantin juga mendapatkan 4 kg buah salak pondoh. “Konsep utamanya mengangkat potensi buah salak pondoh di lereng Merapi, salah satu kekayaan alam khas Sleman,” kata Ryan di lokasi.

Nilai salak pondoh kembali terangkat hingga kancah dunia, membawa spirit Nusantara. Ryan melanjutkan, ini sekaligus mengenalkan wedding destination bahwa Jogjakarta bukan hanya kota pelajar, kota budaya, kota pariwisata, kota gudeg maupun kota kuliner.

Tetapi Ryan ingin mengenalkan Kota Jogja sebagai kota perjodohan di dunia. Juga destinasinya layak digunakan untuk kegiatan wedding layaknya Bali dan luar negeri.

Sejak digelar pada 2016, Fortais telah melaksanakan nikah unik bareng sebanyak 15.030 pasang. Sekaligus menjadi biro jodoh. “Alhamdulillah dari jumlah itu, hanya sebagian kecil cerai. Terkonfirmasi hanya 70 pasang,” ucap Ryan.

Dia menyebut tujuh pasang pengantin ini merupakan warga Sleman. Dia berharap ke tujuh pasangan memotivasi masyarakat, khususnya bagi pasangan yang belum menikah untuk segera menikah. “Jika terkendala modal, dapat mengikuti nikah bareng ini,” bebernya.

Pasangan pengantin Susia Fatia Anggraini, 20, dan Setyo Setiawan, 21, warga Sleman yang mengaku telah berpacaran dua tahun, tampak antusias mengikuti prosesi akad nikah di grojogan sungai kecil setempat. Berlatar belakang aliran sungai, membuat nuansa akad tak biasa.

“Yang pasti senang dan merasa unik. Sebelumnya sih kami udah lamaran, berencana nikah Novermber. Dikasih informasi oleh Pak Dukuh, akhirnya tertarik ikut. Gratis, kan rumayan,” beber Fatia, mempelai wanita yang mengenakan busana khas Surabaya itu.

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa hadir dan sebagai saksi nikah. Ia mengatakan, menikah tidak harus mahal. Menikah tidak harus di gedung mewah. Menikah dapat memanfaatkan potensi alam setempat. Seperti halnya di Kabupaten Sleman ini, banyak memiliki destinasi wisata yang dapat dikonsep sedemikian rupa untuk wedding.

Dia mengapresiasi kegiatan ini, karena bermanfaat, membantu memfasilitasi akad di tengah situasi pandemi Covid-19, sehingga dapat membantu secara ekonomi, khususnya pasangan pengantin. Dia berharap pasangan yang mengikuti nikah bareng ini langgeng dan bahagia dalam mengarungi rumah tangga. (mel/laz) Editor : Editor Content
#fortais #Pandemi Covid-19