Kamaludin bercerita penunjukan dirinya sebagai takmir adalah kesepakatan bersama. Tentunya juga bukan jabatan yang bisa dipandang sebelah mata. Menjadi sosok bagi masjid dan juga perwakilan Keraton di Jogjakarta sisi utara.
"Saya jadi takmir sejak 2003 sampai sekarang. Saya sebenarnya bukan pingin tapi didawuhi kesepuhan saat itu. Ini anugerah, kesempatan juga. Semoga dengan berkhidmat ke masjid dapat bermakna," jelasnya ditemui di Masjid Pathok Negoro Plosokuning belum lama ini.
Baginya menjadi ketua takmir bukanlah perkara yang mudah. Kamaludin harus mengemban tugas dan amanah dengan sebaik-baiknya. Salah satunya adalah konsisten menjalankan syiar agama di Masjid Pathok Negoro Plosokuning.
Disatu sisi, Kamaludin menegaskan jabatan takmir bukanlah duniawi. Dalam artian mengharapkan imbalan atas tanggungjawab yang dilakoni. Terlebih jika jabatan ini adalah kepercayaan dari para sesepuh dan pendahulunya.
"Dawuh itu antara tugas, amanah dan anugerah. Takmir adalah pengabdian, mohon pembalasan dari Allah SWT, tidak dari siapa-siapa. Dari Allah SWT saya yakin balasan akan lebih besar dari balasan yang lain," katanya.
Masjid yang berstatus kagungan dalem atau milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tentu berbeda. Kamaludin harus bisa memposisikan diri sebagai perwakilan Keraton. Sehingga tidak bisa asal dalam mengambil keputusan.
"Harus berhati-hati dalam hal kegiatan. Bisa menjaga marwah masjid dan Keraton, karena masjid ini punya Keraton dan membawa nama Keraton. Jangan sampai kegiatan di masjid ini mengganggu Marwah Keraton sehingga harus kita jaga," ujarnya.
Berbicara syiar, Kamaludin menuturkan Masjid Pathok Negoro Plosokuning konsisten dengan kitab kuning. Merupakan tradisi yang sudah berjalan secara turun temurun. Tentunya telah terpatri kuat di kampung Plosokuning.
Kamaludin mengakui tak mudah menjaga komitmen ini. Terlebih dinamika jaman terus terjadi. Sehingga rentan masuk ideologi yang bertentangan dengan agama dan Pancasila.
"Kami berpatokan pada kitab kuning, pengajian yang ori tidak ada tambahan. Sekarang kan banyak unsur radikalisme diciptakan, di masjid ini tidak ada. Hanya ngaji dengan santun berdasarkan kitab kuning, sistematis dan sangat mengena," katanya.
Masjid Pathok Negoro Plosokuning sendiri dibangun pada 1785. Berstatus kagungan dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Arsitektur masih asli yang mengadaptasi filosofi Jawa.
"Pintu masuk gapura, lalu halaman ada sawo kecik, masjid dikelilingi kolam dan sisi barat ada makam. Arsitektur masih asli dan 80 persen bangunan belum diganti," ujarnya. (Dwi)
Editor : Editor News