RADAR JOGJA - Warga Nglepen Baru, penghuni rumah domes di Padukuhan Sengir, Sumberharjo, Prambanan, membereskan rumahnya pascabanjir pada Rabu malam (30/3). Banjir setinggi lutut orang dewasa itu merendam 25 rumah di wilayah ini. Mereka pun masih diselimuti rasa waswas.
“Banjir datang tiba-tiba dan meredam rumah saya selama tiga jam,” ungkap Ngatiyem, 49, warga rumah domes kemarin (31/3). Saat ditemui Radar Jogja ia tengah membersihkan sisa-sisa lumpur yang menggenangi rumahnya. Banjir yang menurutnya mendadak itu, merendam perkakas isi rumah yang belum sempat diamankan.
“Kasur, baju, terendam, belum sempat diamankan. Air begitu deras masuk melalui celah jendela,” ucapnya. Dibantu kedua anaknya, mereka menjemur segala perkakas isi rumah. Dia berharap, banjir tak lagi datang bila kembali hujan.
Banjir juga merendam rumah domes milik Suratmin, 56. Hampir semua alat elektronik miliknya rusak terendam banjir. Begitu juga buku-buku sekolah anaknya juga ikut terendam. Menurutnya, banjir kali ini lebih parah dari banjir saat Badai Cempaka 2017 lalu. Posisi rumahnya yang lebih rendah dari jalan kampung menyebabkan air meluap deras mengepung rumahnya.
“Sebenarnya barang-barang ini sudah diamankan di atas meja. Hanya saja saya tidak mengira banjir melebihi tinggi meja setinggi lutut,” bebernya. Beruntung dokumen berharga sudah diamankan ke tempat yang lebih tinggi.
Dikatakan, sungai di Padukuhan Sengir perlu dilakukan pengerukan sedimen, sehingga mampu menampung lebih banyak limpahan air saat musim hujan. Meski sempat terendam banjir, dia dan warga setempat tetap bertahan di loteng (lantai dua) rumah domes.
Mereka mendapatkan bantuan tikar, alat mandi, dan pakaian layak pakai dari Pemkab Sleman. Selain itu juga diberikan makanan dan pemeriksaan kesehatan gratis.
Hingga kemarin, rumpunan pohon bambu yang hanyut ke sepanjang sungai di Padukuhan Sengir masih proses pembersihan. Pembersihan juga akan menyasar sumur warga yang tercemar banjir. “Nanti akan dipompa. Ada tiga sumur bor dan tiga sumur warga, terdampak," ungkap Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Bandung Bondowoso Prambanan Prawoto alias Brewok.
Taruna siaga bencana (Tagana) Kabupaten Sleman beserta relawan dan masyarakat setempat disiagakan dengan mendirikan dapur umum, membantu suplai makanan warga terdampak banjir. Setidaknya ada 30 KK yang terdampak atas peristiwa tersebut.
Panewu Prambanan Ishadi Zayid menyebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman serta Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) DIJ terkait normalisasi sungai. Kendati begitu, masih menunggu asesment dari DPUPKP. “Kami masih menunggu tadi Pak Kepala sudah hadir ke sini,” terangnya di lokasi.
Selain dapur umum, antisipasi banjir juga dilakukan dengan mempersiapkan lokasi pengungsian di aula rumah yang lebih aman. Antisipasi jangka panjang, akan dilakukan evaluasi penyebab banjir. Karena sungai di Padukuhan Sengir bermuara di Perbukitan Wukirharjo, nantinya akan dilakukan konservasi dengan penanaman pohon, membuat sumur resapan dan mengecek kembali sejumlah embung di perbukitan Prambanan.
“Kami juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kalurahan Srimartani, Piyungan, Bantul, dan Wukirharjo, Prambanan yang wilayahnya dialiri sungai tersebut,” ungkapnya.
Sebelumnya, Badan Penanggulanagn Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mencatat, selain di Padukuhan Sengir, dampak bencana hidrometeorologi juga terjadi di Padukuhan Kenteng Kenaran, Dayakan, dan Berjo di Kalurahan Sumberharjo, Prambanan. (mel/laz) Editor : Editor Content